KELOMPOK KECIL UMAT

Tahun 2014 bidang Pastoral Ardas Keuskupan Surabaya adalah :

Kelompok kecil umat dan Kerasulan Karya Missioner.

APAKAH “KELOMPOK KECIL UMAT”?

Kelompok Kecil Umat (KKU) adalah suatu istilah yang merujuk pada kebersamaan iman sekelompok kecil umat,yang hidup dan geraknya diwarnai oleh perjumpaan dan berbagai bentuk komunikasi langsung maupun tak langsung di antara anggota-anggotanya. Perjumpaan-perjumpaan dan aneka komunikasi ini, yang berlangsung secara rutin dandengan pola serta kedalaman tertentu sesuai kekhasan atau jenis kelompoknya, membuat kelompok kecil umat ini, meskipun kecil saja jumlah anggotanya, tetapi sungguh hidup,berdaya, dan mampu memberi arti dan tempat, baikbagi para anggotanya maupunbagi orang-orang lain di sekitar mereka.

Kelompok Kecil Umat (KKU) pada dasarnya merupakan komunitas atau persekutuan gerejani yang paling dasar, setelah persekutuan gerejanipaling dasar dan terkecil yang khas, yaitu keluarga atau Gereja Rumah Tangga.Ketika seorang pengikut Kristus meninggalkan kegiatan atau kesibukan keluarga atau rumah tangganya, untuk berjumpa dengan pengikut-pengikut Kristus lainnya, dan bersama dengan mereka membentuk suatu kebersamaan iman yang baru tetapi nyata,dengan Kristus sebagai dasar ikatan mereka (bdk. Mat 18:20), maka lahirlah Kelompok Kecil Umat (KKU).

JadiKelompok Kecil Umat (KKU) tidak merujuk pada suatu kelompok “jenis baru” di luar berbagai pengelompokan yang sudah ada, tetapi merupakan istilah, yang merujuk dan menggarisbawahi berbagai bentuk pengelompokan yang sudah ada,yang para anggotanya terhubung dan memiliki kedekatan langsung dan nyata, baik di suatu wilayah parokiatau lintasparoki dalam keuskupan. Asalkan terdapat kebersamaan dan kumpulan nyata pengikut Kristus yang berjumpa, berinteraksi dan dipersatukan di dalam iman lewat aneka kegiatan, di luar kebersamaan keluarga yang alamiah (namun dalam Gereja diangkat ke tingkat sakramental), terdapat Kelompok Kecil Umat (KKU).

Jadi, Kelompok Kecil Umat (KKU) adalah “model lain”, “cara selanjutnya”kebersamaan hidup umat atau persekutuandihayati di tingkat paling dasar, selain keluarga. Dalam keluarga, para anggota, yang memiliki ikatan darah atau terhubung karena perkawinan, secara gerejani menjadikan Kristus dan iman pada-Nya sebagai dasar utama hidup bersama mereka. Dalam Kelompok Kecil Umat (KKU), para anggota, meskipun mungkin terlepas dari ikatan darah atau keluarga, bersatu dan terhubung atas dasar iman akan Kristus yang diterima dalam Sakramen Baptis. Mereka menjalani kebersamaan itu sebagai suatu kebersamaan Kristiani; sebagai Gereja Kecil dan “keluarga Allah”juga.

Di dalam prakteknya, kebersamaan iman keluarga dan kebersamaan iman Kelompok Kecil Umat (KKU) bukanlah 2 model atau bentuk kebersamaan yang selalu terpisah. Bahkan sewajarnya dalam pengalaman kedua model atau bentuk kebersamaan ini menyatu dan mudah dipertemukan.Suatu lingkungan atau stasi kecil dalam paroki merupakan Kelompok Kecil Umat (KKU), yang praktis terdiri dari beberapa keluarga, dan mungkin satu dua orang individual. Kebersamaan kelompok paduan suara paroki, yang anggotanya tidak hanya dipertemukan secara teknis saat menyanyi tetapi sudah menjadi seperti saudara-saudari, bisa menjadi sarana perjumpaan di antara keluarga-keluarga Kristiani berkat persaudaraan para anggota kelompok paduan suara tadi.

“KELOMPOK KECIL UMAT”: MENGAPA?

Dengan gambaran di atas, jelas bahwa ide atau gagasan “Kelompok Kecil Umat (KKU)” dimunculkan bukan untuk menggantikan kelompok-kelompok atau kebersamaan umat yang sudah ada, atau untuk membuat arah pengelompokan baru. Istilah “Kelompok Kecil Umat (KKU)” diangkat justru untuk menggarisbawahi arti penting dan makna mendalam kehadiran kelompok-kelompok umat di tingkat paling dasar, yang sudah ada selama ini, entah di paroki atau lintasparoki. Kehadiran kelompok-kelompok ini berperan sebagai wadah penghayatan iman yang konkret dan nyata bagi setiap anggotanya, membuat iman yang dimiliki tidak dihayati secara kering dan anomin, membuat kekayaan iman pribadi dapat dibagikan secara langsung dan nyata melalui relasi antarpribadi.

Kelompok Kecil Umat (KKU) menggarisbawahi bahwa iman merupakan tanggapan pribadi atas panggilan Yesus, tetapi tanggapan itu dibina dan ditumbuhkan tidak hanya dalam ruang kesendirian atau dalam lingkup luas dan umum belaka (yang tetap perlu dan memiliki maknanya sendiri), tetapi juga dalam relasi dan keterbukaan nyata antarpribadi. Pribadi-pribadi dalam Kelompok Kecil Umat (KKU), seperti halnya dalam suatu keluarga, secara bersama-sama tumbuh sebagai subjek iman pribadi, sekaligus sebagai subjek iman komunal. Hal ini terjadikarena iman yang satu dan sama diakui, dimaklumkan dan diwujudkan secara bersama-sama, seolah-olah sebagai tindakan dari satu pribadi yang satu dan sama, atau dari satu tubuh yang sama (bdk. 1 Kor 12:12-27).

Dalam paham Gereja sebagai Persekutuan (Communio), kelompok-kelompok kecil umat, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebersamaan yang lebih luas di tingkat paroki dan Keuskupan, menjadi wadah pengalaman iman yang paling langsung dan nyata bagi para anggotanya. Di dalam dan melalui kelompok-kelompok kecil umat inilah, selain di dalam keluarga, iman Kristiani seseorang dibina, bertumbuh menjadi semakin dewasa; tidak layu atau mengering, melainkan selalu segar dan menghasilkan buah karena tumbuh di atas tanah yang subur (bdk. Mat 13:1-9).

Selain di dalam keluarga-keluarga, di dalam kelompok-kelompok kecil umat cita rasa liturgi, semangat persaudaraan, kesadaran moral, pertumbuhan panggilan, pemahaman iman, semangat misioner, hidup doa, kepekaan pada saudara-saudari yang lebih membutuhkan, keberanian memberi kesaksian iman kepada sesama, dan sebagainya berpeluang besar untuk dibina dan ditumbuhkan. Sebaliknya, jika terlepas dari kelompok atau kebersamaan kecil umat, seperti halnya jika terlepas dari keluarga, iman dalam berbagai wujudnya akan mudah mengering, layu dan hilang.

Ditinjau dari segi ini, daya hidup atau vitalitas suatu kebersamaan iman dalam lingkup yang lebih besar, yaitu pada tingkat wilayah, stasi, paroki dan Keuskupan, selain ditentukan oleh keluarga-keluarga yang baik dan bermutu, amat ditentukan pula oleh kehidupan kelompok-kelompok kecil umat yang memiliki vitalitas atau daya hidup tinggi. Kelompok-kelompok kecil umat, seperti halnya keluarga-keluarga Kristiani, seolah-olah merupakan sel-sel bagi tubuh, membangun dan memberinya segala kebutuhan agar tubuh itu hidup dan berfungsi maksimal. Semakin banyak Kelompok Kecil Umat (KKU) yang hidup dan berdaya, semakin hidup dan berdaya suatu wilayah, stasi, paroki dan Keuskupan, dan semakin penuh daya tahan pula di tengah segala macam tantangan dan goncangan.

Di dalam gerak pastoral Keuskupan Surabaya, perhatian terhadap subjek-subjek pastoral perlu diberikan, selain kepada tiap-tiap pribadi sebagai subjek iman atau “individu murid-murid Kristus”, juga kepada kebersamaan iman yang bersifat antarpribadi atau komunal, yang secara bersama-sama mewujudkan iman yang satu dan sama, sebagai “persekutuan murid-murid Kristus”. Maka di dalam rancangan ARDAS diberikan perhatian selain kepada anak-anak (BIAK), remaja (REKAT) dan orang muda Katolik (Kepemudaan), juga diberi perhatian kepada keluarga dan Kelompok Kecil Umat (KKU).

Rm. Petrus Canisius Edi Laksito, 10 September 2013.