renungan-november-2011

Soal Kaya ? Dari perspektif mana kita menilai ? Kalau dari
perspektif kapitalisme, kemungkinan ada unsur Makhiavelian-
nya, karena itu barangkali benar apa yang dikatakan Bung
Rahardi : kemiskinan bukan kodrat, dan kaya juga bukan
berkah.
Tetapi dari segi rahmat / penyelenggaranaan Ilahi, KAYA
menurut saya merupakan pantulan dari keseimbangan orang
yang pandai dan bijaksana menggunakan dua potensi dasar
yang dibawah sejak lahir yakni : “Otak” dan
“Hati” . Dengan otak (pikiran) orang berusaha, bagaimana
membuat hidupnya menjadi lebih dari baik dari yang sudah baik,
dari sukses menjadi lebih sukses.
Dan dengan Hati (daya timbang) orang dimampukan untuk
membedakan mana yang baik, yang perlu dilakukan dan mana
yang tidak baik yang tidak perlu dilakukan dalam hidup ini.
Nah, dalam perspektif ini benar apa yang dikatakan dalam
Pengkotbah 5 : 18 : Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan
dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima
bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya —
juga itu pun karunia Allah.
Atau yang tertulis dalam II Tawarik 29:12 :
Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan
Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-
Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa
membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.
Dengan kata lain, kekayaan terjadi karena orang sungguh
berjuang dengan mengandalkan dua potensi dasarnya sambil
berharap kepada Allah dan hidup dengan penuh rasa syukur.
Ada yang menjadi miskin karena memang orang tidak
maksimal dan optimal menggunakan potensi dasar dalam
perjuangnnya. Ia bermental seperti orang Israel di padang gurun
yang mau mengharapkan mana turun dari surga.
Sudah pasti di dalam setiap perjuangan ada unsur kelemahan
dan kekurangan, yang muncul dalam bentuk, sistem menindas,
korup, curi, makhiavelian, rakus, dll. Inilah realitas manusia
yang punya daging dan roh. Roh itu kuat tetapi daging itu lemah.
Makanya dinasehatkan agar di dalam setiap perjuangan, perlu
pakai pikiran yang bening dan perlu andalkan pertimbangan hati
nurani, agar kalau menjadi orang kaya, ya kaya yang wajar,
bukan kaya karena menipu sana, sini. Walahu alam*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s