SEKILAS INFO

Kita  Belajar

Dari air kita belajar TENANG,
Dari batu kita belajar  KUAT
Dari tanah kita belajar  KEHIDUPAN,
Dari kupu-kupu kita belajar menjadi lebih baik
Dari padi kita belajar RENDAH HATI,
Dan dari Tuhan kita belajar tentang ARTI KEHIDUPAN
Dalam KASIH YANG SEMPURNA.

(ANTONIUS RUSBANI,MISAV  TOC)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Barang milikku yang paling berharga adalah kamu

    Aku sangat menyukai ucapan mama : “Barang milikku yg paling berharga adalah kamu!” Ucapan yang sangat menyejukkan hati. dan sampai sekarang aku masih mengingatnya.
     Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yg dialami para muda-mudi dizaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi dizaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dg papa dan tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai! Badai itu nyaris memisahkan mereka. hanya karena emosi sesaat saja!
     Papa dan mama bekerja diinstansi yg sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname digudang, hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah.

selengkapnya : https://iskasurabaya09.wordpress.com/2011/09/17/inspirasi/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Benedict XVI on Europe’s future

Hari Orang Muda Sedunia 2011, yang akan diselenggarakan di Madrid tgl 16-21 Agustus, adalah moment penting di mana Paus Benedictus akan mengingatkan akar-akar kekristenan Eropa dan mengajak Eropa memahami nilai-nilai demokrasi. Seperti dinyatakan oleh Paus dalam sambutannya di Zagabria, Croatia, pada awal juni lalu, dua hal penting yang perlu ditekankan ialah: menemukan kembali akar-akar kekristenan Eropa dan memperdalam pengertian demokrasi pada masyarakat Eropa abad 21.

Berbicara di hadapan para pemimpin agama, politik, bisnis dan budaya, Paus meringkaskan kembali pandangannya tentang agama dan masyarakat yang sudah ia sampaikan sejak Ia terpilih menjadi Paus tahun 2005.

1.     Agama bukanlah sesuatu yang berada di luar atau terpisah dari masyarakat. Agama adalah bagian inti dari masyarakat. “Agama tidak terpisah dari masyarakat, melainkan adalah elemen natural di dalam masyarakat yang menunjuk dimensi vertikal: yaitu mendengarkan kehendak Tuhan dalam rangka mencari cara terbaik mewujudkan kebaikan umum, keadilan dan kebenaran.

2.     Dimensi manusiawi dari agama adalah tidak sempurna dan berdosa; kita tidak perlu malu mengakui hal ini; dengan iman, akal budi dan kehendak kita perbaiki semangat religius kita. Agama selalu membutuhkan pemurnian dan penyucian untuk  kembali menemukan misinya yang sebenarnya.

3.     Agama-agama tradisional perlu terbuka dan menerima pencapaian-pencapaian kemajuan modern di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya; sebaliknya masyarakat modern juga perlu membuka pintu dan jendela bagi pesan-pesan agama-agama tradisional tentang kebenaran dan cinta kasih. ‘Pencapaian masyarakat modern dalam pengakuan akan kebebasan suara hati, hak asasi, kebebasan ilmiah dan pengakuan akan masyarakat sekular yang bebas hendaknya diimbangi pula dengan keterbukaan kepada dasar-dasar transendental yang mendasari semuanya itu. Kwalitas masyarakat sipil, kehidupan sosial dan demokrasi sangat tergantung dari titik kritis ini, yaitu hati nurani: tentang bagaimana hati nurani itu dimengerti dan caranya hati nurani itu dibentuk.

4.     Hati nurani adalah bukan sekedar soal kemampuan menentukan apa yang saya ingin perbuat dan kemudian melakukannya; melainkan soal mencari apa yang benar dan kemudian saya merasa terikat dengan kewajiban untuk mengikuti kebenaran yang saya temukan itu; dengan kebenaran itu kita berdiri di hadapan diri sendiri dan di hadapan masyarakat. “Jika kita mengikuti pemikiran modern yang diterima umum dewasa ini bahwa suara hati adalah masalah pribadi di mana soal agama dan moralitas adalah urusan masing-masing orang, maka krisis dalam masyarakat barat ini tidak ada obatnya dan Eropa ditakdirkan untuk hancur. Sebaliknya, jika suara hati dimengerti sebagai penemuan kembali semangat untuk mendengarkan kebenaran dan kebaikan, tempat di mana ada tanggungjawab pribadi di hadapan Allah dan sesama saudara – adanya semangat untuk melawan setiap bentuk tirani – maka masih ada harapan akan masa depan.

5.     Jika Eropa dipisahkan dari akar-akar kekristenannya, ia akan beku dan mati; atas nama sekularisme, Eropa ingin memisahkan dirinya sendiri dari salah satu sumber vitalitas kebudayaannya, yaitu kekristenan. “ Saya ingin berterimakasih kepada mereka semua yang mengingatkan kita akan akar-akar kekristenan Eropa, yaitu mereka yang berasal dari kalangan akademisi dan budayawan di seluruh benua Eropa. Kita perlu selalu diingatkan akan asal-usul semua itu, bukan hanya supaya kita mengetahui kebenaran sejarah, dan supaya kita mengenali akar-akar Eropa secara tepat, melainkan juga supaya kita diberi makan oleh kekayaan rohani itu untuk menghidupi Eropa saat sekarang ini.

6.     Gereja tidak berperan langsung di dalam politik praktis; namun Gereja berkepentingan membentuk warga masyarakat yang dapat menciptakan budaya yang benar dan membangun pemerintahan demokratis dengan baik. “Melalui pembentukan hati nuranilah Gereja menyumbangkan kontribusinya yang khas dan bernilai bagi masyarakat. Kontribusi itu dimulai dari keluarga-keluarga yang secara nyata digalakkan di paroki-paroki di mana kita belajar untuk memperdalam pemahaman kita tentang Kitab Suci,yang bagaikan kanon besar budaya Eropa.

Itulah enam pokok yang secara terang-terangan juga dipertanyakan oleh banyak orang, namun secara serius juga dipertimbangan, dan yang nyata-nyata juga menjadi pertanyaan orang-orang Amerika. Persoalan yang diangkat oleh Benedictus XVI itu bukan hanya masalah Eropa, melainkan itu adalah doktrin sosial Gereja yang mungkin bertabrakan secara frontal dengan budaya modern sekarang ini. Walaupun nampaknya begitu tipis harapan bahwa akan ada orang-orang yang akan mengikutinya, namun semoga masih ada yang mau mendengarkannya.

By George Weigel,  is Distinguished Senior Fellow of the Ethics and Public Policy Center in Washington, D.C.

Translated by Alberto Sujoko, is not- distinguished Moral Theologian of the STF Seminari Pineleng, Manado.

Salam.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANDA SALIB (II)

Sekali lagi tentang rumusan “Atas nama Bapa …..” atau “Demi nama Bapa….” Dalam Perjanjian Baru bebahasa Yunani dikenal ungkapan en too onomati (= dalam nama) maupun eis to onoma (=ke dalam nama). Kedua uangkapan ini mengandung gagasan yang sama.

Contoh menurut Kisah 10:48 orang dibaptis dalam nama Yesus Kristus  (en too onomati Jesou Chistou) artinya dalam persatuan dengan Kristus, sedangkan menurut Kisah 19:5 orang dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus” (eis to onoma Jesou Christou) ke dalam persatuan dengan nama Yesus. Bahwa dalam bahasa Alkitab “nama” praktis sama dengan “pribadi” orang itu sendiri. Jadi “dibaptis dalam nama Yesus” berarti dibaptis dalam (persatuan dengan) Yesus.

“Dimuliakanlah namaMu” sama artinya dengan “Dimuliakanlah Dikau” Rumusan tanda salib dalam bahasa Indonesia “Dalam nama Bapa ……” atau “Demi nama Bapa …..” sebenarnya mau menterjemahkan ungkapan en too onomati maupun eis to onoma.

Kita mengawali suatu perbuatan dengan tanda salib untuk menyatakan bahwa kita melakukan hal itu dalam persatuan dengan Allah Tritunggal. Rumusan “Atas nama Bapa ….” banyak ditinggalkan orang karena kurang tepat, rumusan ini memberi kesan, seakan-akan kita akan melakukan sesuatu sebagai wakil Allah Tritunggal.

(Antonius Rusbani, Buku I umat bertanya Rm Pid menjawab)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANDA SALIB (I)

Dalam bahasa Jawa rumusan untuk tanda salib berbunyi :

“Konjuk atau Atas Asma Dalem …….” Padahal menurut bahasa lain tidak demikian,

In nomine……………. (Latin)

In the name ………… (Inggris)

In de naam …………. (Belanda)

Rumusan yang tepat adalah “Ing Asma Dalem (tanpa “Konjuk”).. atau “Dalam nama (bukan lagi Atas nama atau Demi nama ………)?

Rumusan “Atas nama Bapa……” atau “Konjuk ing Asma Dalem ….” sering memberi kesan keliru, seakan-akan kita bertindak mewakili Allah Tri Tunggal.

Lebih tepat rumusan “Dalem nama …..” (Jawa : Ing Asma Dalem…….) gagasan yang ada di dalamnya adalah bahwa kita mau berbuat sesuatu “dalam persatuan dengan Allah Tritunggal”

Sedangkan rumusan “Demi nama Bapa ……..” bisa juga dipakai sebab disitu ada pengertian bahwa kita berbuat sesuatu “untuk menghormati” atau “demi kemuliaan” Allah Tritunggal.

(Antonius Rusbani, Buku I umat bertanya Rm Pid menjawab).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PATUNG DALAM GEREJA KATOLIK

Fungsi patung-patung dalam Gereja Katolik bukan untuk dipuja seperti kata sementara orang yang mengatakan bahwa orang katolik menyembah berhala, patung-patung.
Fungsinya mirip dengan foto orang yang kita kasihi, cintai, entah yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Orang suka memasang foto-foto orang yang dikasihi didompet, diatas meja atau di dinding bahkan di HP. Tujuannya sekedar memudahkan untuk mengingat pada pribadi yang digambarkan dalam foto itu atau supaya orang merasa lebih dekat dengannya. Fungsi patung juga mirip dengan bendera. Bendera melambangkan suatu bangsa. Oleh sebab itu, menghina bendera dianggap sama dengan menghina bangsa pemilik bendera tersebut.
Patung-patung di Gereja Katolik pun dimaksudkan untuk memudahkan ingatan kita kepada pribadi yang digambarkan dengan patung itu. Kita bisa saja membuang patung-patung itu dari Gereja Katolik. Akan tetapi, kalau orang memang merasa tertolong dengan adanya patung, mengapa dibuang. Karena orang menghormati pribadi yang digambarkan oleh patung itu, tentu saja orang Katolik tidak akan memperlakukan patung-patung itu secara tidak terhormat.
( Antonius Rusbani, Buku ke 1 Umat Bertanya,Rm Pid menjawab)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KEBANGKITAN BADAN

Dalam Syahadat para Rasul terdapat kalimat:”Kebangkitan badan”. Apakah tidak perlu diubah dengan kebangkitan roh? Kebangkitan badan berarti kebangkitan seluruh badan. Kalau begitu bagaimana dengan kremasi, atau mereka yang menyumbang organ tubuhnya untuk orang lain?

Yang dimaksud adalah kebangkitan badan seutuhnya, bukan kebangkitan roh. Dan itu terjadi pada akhir zaman. Allah Mahakuasa! Biarpun tubuh manusia itu hancur lebur dan terserak kemana-mana, atau biarpun orang pernah menyumbang organ tubuhnya atau dibakar dan abunya dilarung ke laut dsb, Allah tanpa kesulitan apapun mampu menyatukan tubuh masing-masing orang dan membangkitkannya pada akhir zaman.

Mengenai arti kebangkitan badan yang disebut dalam Syahadat Para Rasul yang kedua atau arti ungkapan “Aku menantikan kebangkitan orang mati”dalam Syahadat Para Rasul yang pertama. Apa pebedaannya dan kapan hal itu terjadi?

Tidak ada perbedaan diantara keduanya. Maksudnya sama, yaitu bahwa kita percaya sekaligus menantikan kebangkitan badan pada akhir zaman.

Mengenai kebangkitan badan baca antara lain Yoh.6:39-49, Tesolonika 4:16. Selama akhir zaman itu belum tiba, badan orang yang mati akan hancur didunia ini, sedangkan jiwa/rohnya pergi ke surga atau ke api penyucian atau ke neraka. Tetapi pada akhir zaman, Allah akan menyatukan kembali roh dengan badannya. Yesus sendiri berkata bahwa pada akhir zaman “mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”

(Yoh 5:29). ( Antonius Rusbani, Buku ke 2 Umat Bertanya,Rm Pid menjawab)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pedoman Dasar Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Badan Gereja Katolik Paroki (BGKP)

BAB I Pasal 2 Perangkat Gerejawi

• Pastor Kepala Paroki

Pastor yang mendapatkan perutusan dan tanggung jawab dari Uskup untuk memimpin paroki, dalam kerjasama dengan Pastor Rekan (d/h Pastor Pembantu – pen) dan Dewan Pastoral Paroki (d/h Dewan Paroki – pen) ex. Officio disebut Ketua Umum Dewan Pastoral Paroki/Badan Gereja Katolik Paroki (Pasal 2.d);

• Pastor Rekan

Pastor yang mendapatkan perutusan dan tanggung jawab dari Uskup untuk ikut serta dalam penggembalaan umat paroki, dalam kepemimpinan Pastor Kepala Paroki. Ia juga disebut Wakil Ketua Umum Dewan Pastoral Paroki/Badan Gereja Katolik Paroki (Pasal 2.c);

• Dewan Pastoral Paroki

Adalah Dewan dimana Pastor Paroki dan para wakil umat memikirkan, memutuskan dan mengupayakan bersama-sama semua yang berkaitan dengan kehidupan iman umat serta pelaksanaan panggilan dan tugas untuk menguduskan, mewartakan dan menggembalakan lewat panca tugas Gereja yakni liturgia, diakonia, kerygma, keinonia dan martyria (Pasal 2.e);

• Badan Gereja Katolik Paroki

– Adalah Dewan Keuangan Paroki yang dibentuk oleh Uskup (bdk.KHK Kan 537) di masing-masing paroki, sebagai Badan Hukum Gerejawi (Pasal 2.j);

– Badan Gereja di keuskupan Surabaya sebagai badan konsultatif yang membantu pastor paroki dalam membuat kebijakan-kebijakan di bidang perekonomian dan pengelolaan harta benda Gereja (Pedoman Tatakelola Harta Benda Gereja Keuskupan Surabaya Paroki dan Pastoran, Bab I Pasal 1 v).

(Antonius Rusbani, Sumber : Pedoman Dasar Dewan Pastoral Paroki dan Badan Gereja Katolik Paroki dan Pedoman Tatakelola Harta Benda Gereja Keuskupan Surabaya Paroki dan Pastoran)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s