Danke Schoen, Papa Benedikt

Danke Schoen, Papa Benedikt

Dear Brothers and Sisters,

After the great Pope John Paul II, the Cardinals have elected me, a simple and humble labourer in the vineyard of the Lord.  The fact that the Lord knows how to work and to act even with inadequate instruments comforts me, and above all I entrust myself to your prayers.  Let us move forward in the joy of the Risen Lord, confident of his unfailing help. The Lord will help us and Mary, his Most Holy Mother, will be on our side. Thank you.

Ratzinger: The God’s Rottweiler

Masih terngiang dengan jelas, sambutan Paus Benediktus di atas yang diucapkan 19 April 2005. Hari itu adalah hari yang menggembirakan karena kehilangan Gereja yang sangat besar setelah berpulangnya Paus Agung Yohanes Paulus II (The Great John Paul II) saat itu juga terobati.

Terpilihnya Joseph Alois Ratzinger menjadi Paus, yang kemudian mengambil nama Benediktus XVI tidak terlalu mengejutkan bagi mereka yang rajin mengamati dapur Vatikan.  Tidak ada orang yang asing di dalam kumpulan Kardinal, tidak pula seseorang dikenal oleh dunia karena menjadi Paus.  Baik Giovani Baptista Montini (Paulus VI), Albino Luciani (Yohanes Paulus I) maupun Karol Wojtyla (Yohanes Paulus II)  semuanya sudah dikenal publik sebelum resmi menjadi pengganti Petrus.

Ratzinger seorang Bavaria, memiliki tradisi kekatolikan yang sangat mendarah daging.  Bahkan sambil bergurau, Ratzinger pernah mengatakan bahwa orang Bavaria selalu menganggap wilayahnya sebagai bagian dari Roma, bukan Republik Federal Jerman.  Pernyataan ini bukanlah tanpa alasan mengingat Bavaria selama berabad-abad telah melahirkan banyak intelektual gereja seperti Henri Lubac, Hans urs von Balthasar dan Walter Kasperand serta menjadi benteng yang kokoh melawan reformasi protestantisme. Karena Bavaria, Reformasi Protestan bahkan tidak bisa berjaya di negara asalnya sendiri.

Sebelum menjadi Paus, Ratzinger adalah Uskup Agung Munich, dan kemudian namanya menjadi terkenal ketika menjadi Prefek Kongregasi Doktrin Iman (Congregation for the Doctrin of the Faith), sebuah institusi Gereja Katolik yang pada abad pertengahan dikenal dengan Inkuisisi. Lembaga kejam yang telah memanggang mereka yang dianggap bidat atau mempraktekkan sihir.  Lain dulu lain pula sekarang, di zaman modern ini, Kongregasi Doktrin Iman telah menjadi salah satu lembaga Gereja yang paling bergengsi yang mensortir ajaran iman dan menjaga kemurniannya.  Ratzinger dipanggil secara khusus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981 untuk mengepalai lembaga ini.  Sejak saat itulah namanya menjadi langganan berita L’Observatore Romano dan julukan The God’s Rottweiler diperolehnya.

Selama menjadi Prefek Kongregasi Doktrin Iman, Ratzinger terkenal cukup rigid dan konservatif.  Masih teringat di benak umat awam Katolik yang menggemari tulisan-tulisan Anthony de Mello, seorang Jesuit India yang bukunya di Indonesia banyak diterjemahkan dan dicetak ulang, antara lain: Sadhana, Doa Sang Katak, Burung Berkicau, Sejenak Bijak dll.  Siapa mengira, bahwa ternyata Kongregasi Doktrin Iman menganggap tulisan-tulisan Anthony de Mello ini tidak menampakkan keunggulan iman Kristiani dan cenderung mengandung bahaya indiferentisme (paham yang menyama ratakan agama dan kepercayaan).  Maka kecewalah para penggemar dibuatnya, dan ini adalah ulah Ratzinger.

Kemudian pada tahun 2000, Kongregasi yang sama menerbitkan dokumen yang berjudul Dominus Jesus, intinya dokumen ini menekankan pada keunggulan iman kepada Yesus Kristus yang diwartakan oleh Gereja Katolik.  Tampaknya Ratzinger ingin menjaga umat Katolik untuk tidak terbuai dengan “kenikmatan” dialog agama dan kemudian mengabaikan keunggulan iman Kristiani yang otentik.

Hal-hal inilah yang membuat figur Ratzinger menjadi sangat ternama bahkan sebelum menjadi Paus.  Karena begitu kuatnya figure Ratzinger, beberapa media bahkan (entah disengaja maupun tidak disengaja) masih suka menyebut Paus Ratzinger instead of Paus Benediktus.

Perang Ratzinger

Lain Yohanes Paulus II, lain Benediktus XVI, sekalipun hubungan keduanya sangat dekat dan loyal satu sama lain, namun mereka punya pandangannya sendiri-sendiri. Kita lihat dari segi pemilihan nama saja misalnya.  Kalau dirunut, dari pertengahan abad ke-20, para Paus memiliki tradisi untuk “menyamakan” nama mereka sebagai bentuk loyalitas dan penerusan tradisi.  Angelo Roncalli yang menjadi Paus Yohanes XXXIII, yang membuka Konsili Vatikan II menjadi Paus yang sangat dicintai dan dihormati, demikian juga Giovani Baptista Montini yang menjadi Paus Paulus VI dan menutup Konsili Vatikan II.  Sebagai penghormatan atas kedua Paus ini, Albino Luciani, ketika terpilih menjadi Paus, mengambil nama keduanya, yaitu Yohanes Paulus I (dia menjadi Paus pertama yang memiliki 2 nama).  Setelah Paus Yohanes Paulus I meninggal, Karol Wojtyla yang menjadi Paus pengganti mengambil nama Yohanes Paulus II untuk menghormati Paus Yohanes XXIII, Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus I.  Tetapi setelah Paus Yohanes Paulus II meninggal, penggantinya, tidak mengambil nama Paus Yohanes Paulus III, tetapi Benediktus XVI. Kok tidak nyambung? Ada apa gerangan?

Jawaban atas pertanyaan ini ialah Ratzinger memiliki perang yang berbeda dengan Wojtyla. Wojtyla berjuang melawan komunisme dan perkembangan teologi pembebasan (terutama di Amerika Latin).  Sedangkan seumur hidupnya, Ratzinger adalah seorang warrior, melawan musuh-musuh terbesarnya yaitu relativisme dan sekularisme.  Hidupnya didedikasikan melawan kedua musuh besarnya sebagai seorang penulis buku, dan mahaguru di Universitas Regensburg.  Ratzinger mati-matian melawan sekulerisme Eropa yang dianggapnya sangat melemahkan iman dan tidak dapat berdiri dengan kebenarannya sendiri. Oleh sebab itu, ketika terpilih menjadi Paus, dia memilih St. Benediktus, penyebar iman Eropa, peletak dasar hidup monastik menjadi pelindungnya. Sekaligus nama itu disandangnya untuk menghormati Paus Benediktus XV yang membimbing Gereja melewati masa-masa sulit di Perang Dunia I.

Awal-awal masa kepausan Benediktus XVI diwarnai oleh banyak kritikan yang menganggap dirinya terlalu Europe-centric. Banyak kritikusnya yang menganggap bahwa Gereja Katolik di masa kini berkembang pesat di dunia ketiga, di Asia dan Afrika.  Sedangkan di Eropa, Gereja Katolik mengalami penyusutan besar-besaran. Bahkan di Amerika Latin yang secara tradisional menjadi basis Katolisisme sekalipun, Gereja tak henti-hentinya digoyang.  Berdasarkan laporan yang terpercaya, Umat Katolik di Brazil mengalami penurunan bahkan sampai 30% dalam 10 tahun terakhir  Oleh karena itu Paus Benediktus XVI seharusnya memberikan perhatian lebih kepada wilayah-wilayah ini daripada memperhatikan Eropa yang secara tradisional telah mejadi medan peperangannya.

Terlepas dari kritikan-kritikan tersebut, toh pada akhirnya Paus Benediktus juga mengunjungi Afrika, Australia dan Asia.  Bahkan ke negara-negara yang kurang aman seperti Jordania dan Lebanon dan mengkanonisasi Santo asli Brazil (Friar Galvao) dan Santo asli Filipina (Pedro Calungsod).  Namun bagaimanapun besarnya perhatian yang dicurahkan Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Benediktus XVI terhadap hal-hal ideologis dan filosofis.  Mereka pada akhirnya menemukan bahwa musuh terbesar Gereja, musuh terbesar iman Katolik ada di dalam Gereja sendiri.

Krisis terbesar Gereja: Kasus Pedofilia dan Kesetiaan kepada Paus

Dua krisis terbesar pada masa kepausan Benediktus XVI, yaitu kasus pedofilia dan kesetiaan di lingkaran dalam Vatikan.   Dua krisis ini luar biasa hebatnya, bahkan boleh dikatakan jauh melebihi krisis Gereja masa Pius XII ketika dia harus menjaga netralitas Gereja sekaligus bersikap melawan holocaust di Perang Dunia II. Krisis pada masa itu telah menyebabkan banyak skandal yang menimbulkan rasa sedih dan malu yang mendalam pada Gereja, namun harus diakui, krisis tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan krisis pedofilia yang menghantam Gereja.

Krisis Pedofilia terjadi secara luas, di banyak Gereja di Eropa dan Amerika.  Krisis ini terjadi dalam derajat yang berbeda-beda.  Mulai dari sesuatu yang bersifat “kecelakaan” sampai sesuatu yang hampir bisa dikatakan “cukup terorganisir”.  Mulai dari level “khilaf” sampai kepada level kelainan/sakit mental yang parah.  Ambil contoh misalnya sebuah serikat religius bernama Legion of Christ di Meksiko.  Serikat religius ini melahirkan imam-imam muda yang tangguh dan berbakti.  Sekilas tampaknya serikat religius ini menjadi tanda kebangkitan (spiritual revival) di Meksiko. Pendirinya Marcel Marciel telah berkali-kali mengadakan audiensi dengan Paus Yohanes Paulus II dan mendapatkan berkat apostoliknya.  Namun melalui beberapa laporan yang sudah terkonfirmasi, sang pendiri ternyata memiliki kelainan.  Ia memiliki hubungan seksual dengan sedikitnya 2 wanita, menjadi bapak dari sedikitnya 6 anak dan juga telah melakukan pelecehan seksual kepada beberapa seminaris bimbingannya.

Entah karena sikap defensive atau bagaimana, beberapa laporan seputar kasus pedofilia dan pelecehan seksual ini telat diproses dan telah menjadi skandal yang meluas.  Ketika Paus Benediktus XVI bertahta, ia berusaha membersihkan gereja dari skandal ini.  Marcel Marciel diberhentikan sebagai imam, Legion of Christ diserahkan pembinaannya kepada pejabat gereja yang kompeten dan Paus juga melakukan permintaan maaf ke banyak korban.  Namun harus diakui, semua itu agak terlambat.  Rasa benci dan antipati kepada Gereja sudah meluas dan yang paling menyedihkan adalah lunturnya kepercayaan terhadap gereja, imam, dan serikat religius. Terkadang kondisi ini juga diperparah oleh statement dari pejabat gereja sendiri.  Tarcisio Bertone (Sekretaris Negara Vatikan) dan Angelo Sodano (Ketua Dewan Kardinal) pernah mengatakan bahwa akar masalahnya ada pada homoseksualitas.  Statement blunder seperti ini yang nampaknya hanya  memperparah image gereja.  Mereka mengatakan sesuatu jauh panggang dari api, tidak menyentuh inti permasalahan dan hanya memperparah posisi gereja dengan pihak-pihak yang memusuhinya.

Paus Benediktus mengatakan dalam jumpa persnya di atas pesawat sebelum mengunjungi Amerika Serikat bahwa pembinaan imam akan lebih fokus kepada kualitas dan bukan kuantitas. Ini tentunya statement yang jauh lebih tepat sasaran dan lebih bijak. Dalam berbagai kesempatan, Paus Benediktus juga meminta umat untuk menyayangi imam-imam mereka, karena tantangan menjadi imam yang baik tidak mudah.   Namun sepertinya PR besar ini tidak bisa dia lanjutkan.  Pengganti beliau yang ditunjuk Tuhan akan meneruskan kerja besar membersihkan gerejaNya.

Kasus kedua yang menghantam gereja adalah Vatileaks.  Terbongkarnya dokumen-dokumen rahasia Gereja oleh orang kepercayaan Paus sendiri, Paolo Gabriele.  Paolo adalah seorag awam bukan imam yang memiliki akses ke kamar pribadi Paus dan mengurus dokumen-dokumen Vatikan yang paling classified. Terbongkarnya dokumen-dokumen rahasia Vatikan ini mengakibatkan satu orang kebakaran jenggot, dialah Tarcisio Bertone (Sekretaris Negara Vatikan).  Dalam dokumen-dokumen tersebut terdapat intrik dan politik dalam Vatikan yang nampaknya menampilkan Bertone ibarat Kardinal Richelieu dalam novel Three Musketeers karangan Alexandre Dumas.  Dalam pengakuannya kepada Paus dan media, Paolo Gabriele mengatakan bahwa dia melakukan ini semata-mata karena cintanya kepada Paus dan Gereja Katolik, dia tidak rela Paus dibohongi oleh pembisik-pembisik di sekitarnya.  Hal ini menimbulkan tanda tanya yang besar: kalau begitu, siapakah yang bisa dipercaya di lingkaran dalam Vatikan?  Bagaimanapun juga, tindakan Paus Benediktus mengampuni Paolo Gabriele merupakan isyarat bahwa paling tidak Paus tidak kehilangan semua kepercayaan kepada pembantu pribadinya ini.

Mengapa Paus mundur?

Beberapa jam setelah Paus Benedictus XVI mengundurkan diri : petir menyambar sebanyak dua kali. Kilat panjang menciptakan efek terang mengerikan, kala mengenai kubah salah satu gereja paling suci Katolik. Sebagian orang menganggapnya sebagai "pertanda dari langit". Entah apa yang dimaksud.

Beberapa jam setelah Paus Benedictus XVI mengundurkan diri : petir menyambar sebanyak dua kali. Kilat panjang menciptakan efek terang mengerikan, kala mengenai kubah salah satu gereja paling suci Katolik. Sebagian orang menganggapnya sebagai “pertanda dari langit”. Entah apa yang dimaksud.

Dalam statemen pribadinya, Paus mengatakan bahwa salah satu alasan kuat pengunduran dirinya adalah karena usia lanjut.  Namun analisa tidak bisa berhenti pada statemen itu saja, ada beberapa hal yang mungkin bisa menyebabkan pengunduran diri beliau:

Pertama,  Paus Benediktus menyadari bahwa selama 5 tahun terakhir sebelum Paus Yohanes Paulus II wafat, Paus Yohanes Paulus II sudah sakit-sakitan dan tidak menjalankan kepausan dengan efektif.  Pada waktu itu sebenarnya keputusan dan kerja Paus Yohanes Paulus II sangat dibutuhkan gereja terutama menghadapi krisis pedofilia dalam gereja.  Karena kurang efektifnya kepausan, masalah tersebut membesar dan menjadi sulit diselesaikan. Paus Benediktus tentu saja tidak ingin mengulangi “kesalahan” tersebut.  Paus Benediktus tidak memiliki karisma sebesar Paus Yohanes Paulus II, sehingga mengundurkan diri sebelum fisiknya menjadi semakin lemah, dipandang sebagai keputusan yang tepat.

Kedua,  Paus Benediktus adalah seorang yang memiliki watak orang German pada umumnya.  Selama menjadi Paus, Benediktus sanggup menulis banyak buku, beberapa di antaranya adalah 3 volume Jesus of Nazareth yang sangat spektakuler.  Paus Benediktus sadar apabila dirinya sudah tidak bisa efektif seperti dulu lagi, dia lebih baik menyerahkan pekerjaan kepada orang lain, walaupun banyak orang masih melihat bahwa kesehatannya masih cukup prima.

Ketiga, Paus ingin memulai tradisi yang sudah lama hilang sejak tahun 1415 ketika Paus Gregorius XII mengundurkan diri karena sakit.  Paus ingin membudayakan tradisi “pensiun dini” sebagai tanda bahwa Paus tidak seharusnya berhenti seiring dengan tutup usia agar Gereja bisa selalu energik dengan kepemimpinan yang baru.

Keempat, Paus memberikan signal bahwa krisis di dalam Gereja sudah sangat parah sehingga seorang Rotweiller-pun sudah kelelahan menghadapinya. Paus tentunya mengharapkan agar penggantinya dengan tenaga yang lebih segar mampu melakukan serangan balik kepada musuh-musuh dalam selimut.

Pengganti Paus

Seiring dengan pengumuman pengunduran diri, muncullah spekulasi akan Paus baru pengganti Benediktus XVI.  Tarcisio Bertone dan Angelo Sodano sudah jelas adalah orang-orang kuat yang disebut-sebut media.  Namun pengamatan saya mengatakan bahwa peluang Bertone lebih kecil karena krisis yang melibatkannya.

Kemungkinan besar tidak akan dipilih Kardinal yang berusia lanjut, jadi mungkin Kardinal Christoph Schonburn dari Vienna yang berumur 68 tahun, seorang ortodoks yang sangat dekat dengan Paus adalah calon kuat. Beberapa calon kuat lain mungkin juga akan datang dari non-Eropa seperti Francis Arinze dari Nigeria yang pernah menjadi Prefek Kongregasi Dialog antar Umat Beriman atau mungkin Kardinal Timothy Dolan yang menjadi Uskup Agung New York.  Joao Braz de Avis dari Brazil yang masih berumur 65 tahun juga menjadi salah satu calon yang disebut-sebut dari Amerika Latin.

Bagaimanapun juga, harus dikatakan bahwa tidak ada calon tunggal yang kuat seperti Ratzinger yang menggantikan Paus Yohanes Paulus II.  Namun karena Paus Benediktus XVI masih hidup, maka suaranya akan sangat berpengaruh dalam conclave.  Apakah Benediktus akan mempersiapkan Gereja untuk memiliki Paus non Eropa atau dia kembali bersikap konservatif? Kita tunggu sambil berdoa, biarlah Tuhan yang menjaga kelangsungan Gereja.

Harus diakui juga, 7 tahun kepempinan Paus Benediktus telah membuahkan hasil yang cukup nyata, hal ini tampak dari perkembangan iman di daerah-daerah misi baru, terutama dunia berkembang dan penekanan yang besar akan iman Katolik dalam lembaga-lembaga pendidikan katolik dan kegiatan kerasulan awam. Karena itu, pengunduran Paus ini harus ditanggapi dengan wajar sambil berdoa agar Gereja bisa bangkit dari keterpurukan.  Untuk semua jerih payah Paus Benediktus XVI kita ucapkan Danke Schoen Papa Benedikt! Selamat memasuki masa pensiun yang damai.

=========Jakarta, 11 Februari 2012

Dipersembahkan untuk Paus Benediktus XVI: Seorang Katolik sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya (bdk. Sabda Tuhan kepada Natanael Yoh 1:47)

 

 

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARTIKEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s