sharing dari Farida

BIDANG PASTORAL REMAJA DARI ARAH DASAR GEREJA KEUSUKUPAN SURABAYA :

3.2.3. Remaja

Prioritas Program (1) : Pendampingan dan pembinaan remaja dalam mengenal dan mengembangkan  diri dan lingkungan untuk menjawab panggilan hidup sebagai orang beriman

  • Ø Maksudnya :

Mengupayakan pendampingan dan pembinaan remaja dengan kegiatan-kegiatan yang mendorong dan membantu remaja belajar menemukan jati dirinya sebagai pribadi agar kelak mereka mampu menjawab panggilan hidupnya sebagai orang beriman dengan penuh tanggungjawab.

Nilai yang dihayati adalah : Belajar bertanggung jawab.

Contoh Sharing penghayatan dalam pengalaman hidup almarhum Ibunda Sdri Farida membantu anak-anaknya diusia masa Remaja membantu belajar menemukan jati diri  dan belajar bertanggung jawab menjadi orang Katolik yang tanggap pada mendewasakan Iman Katolik di dalam mengamalkan prioritas program Keuskupan, walaupun beliau pasti tidak mengetahui ARDAS Keuskupan Surabaya 2009- 2011.

Mama saya, Katarina Alexandria Tan Tanti Ikadewi, menikah dgn papa saya Agustinus Djoko Efendie ketika itu sbg penganut ajaran Konghuchu. Mereka dikaruniai 5 (lima) putri dan 1 (satu) putra bungsu.

Kami seluruh putra putrinya diberikan ajaran Konghuchu, seperti sembahyang leluhur di rumah dan di waktu2 tertentu beribadat ke klenteng. Namun kami semua disekolahkan di sekolah katolik, sejak TK, SD, SMP hingga SMA. Satu per satu di antara kami akhirnya menjadi penganut Katolik, dibabtis pada usia sekolah SMP atau SMA.

Ketika itu beberapa bulan mama juga ikut mjd katekumen namun papa ingin mama tetap menganut ajaran konghuchu spt dirinya.

Ada begitu banyak orangtua Katolik yg mempermandikan anak sejak usia bayi, itu hal biasa…namun ketika orangtua kami yg bukan “orang yg percaya”, tidak mengimani teladan Yesus, tentunya mjd tanda tanya besar, bgmn mereka mampu mendidik dan membesarkan putra putri secara Katolik dgn mengandalkan lingkungan sekolah? Allah mengajarkan kasih, dan saya percaya bhw cukup dgn perilaku kasih itulah orangtua membesarkan dan mendidik kami dgn akhlak dan budi pekerti yg baik.

Setiap hari minggu orangtua kami juga selalu mengingatkan kewajiban kami utk bersama2 pergi beribadat ke gereja. Rumah kami hanya 10 menit ditempuh dgn berjalan kaki berangkat ke Gereja Katedral Jl. Ijen Malang. Tak lupa juga orangtua memberi kami uang saku utk kolekte🙂

Ketika kami mulai beranjak dewasa dan mulai tertarik dgn lawan jenis, mama selalu bertanya kpd pria atau wanita pujaan hati : “kamu Katolik, bukan?” Jika jawabannya adl “bukan”, maka menunjukkan tanda keberatannya dgn berbagai cara. Mulai cara halus, mondar mandir di ruang tamu, hingga menolak lamaran keluarga sang kekasih. Pernah kami bertanya, mengapa tidak boleh beda agama? Dijawabnya, “menjalani kehidupan berumah tangga yg langgeng itu tidak mudah bagi mereka yg seagama, apalagi jika beda keyakinan.”

Akhirnya kelima putri mereka mendapat pasangan hidup seiman Katolik. Kedua orangtua kami selalu hadir di gereja dlm acara pemberkatan perkawinan kami.

Seiring berjalannya waktu, kedua orangtua kami sangat bangga ketika hampir seluruh cucunya telah dididik dan dibesarkan serta dibaptis secara katolik oleh putri2nya sejak bayi dan disekolahkan di sekolah2 katolik.

Suatu saat, kesehatan mama mulai menurun. Sakit jantung dan diabetes dan terakhir dideteksi terserang kanker paru. Mama shock dan sbg orang yg belum percaya kpd Tuhan, mama berkeyakinan bhw usianya tidak lama lagi, tidak lebih daripada tiga bulan, spt teman2 mama. Ketika kami mengingatkan bhw hidup mati seseorang ditentukan oleh Tuhan, mama tetap lebih percaya bhw teman2nya yg dideteksi kanker pada umumnya hanya bisa hidup sebatas masa itu.

Tak lama kemudian kondisi kesehatan mama semakin menurun drastis dan harus dirawat intensif di rumah sakit karena kondisi kesehatan dan usia lanjut tidak memungkinkan tim medis melakukan upaya pengobatan kanker dgn kemoterapi atau operasi atau penyinaran.

Pada suatu hari, suami saya menjenguk mama di rumah sakit dan melihat kondisi mama yg menurutnya saat itu sudah sangat membutuhkan siraman rohani dan penghiburan.

Kendati mama mulai sulit berucap, suami saya bertanya kpd mama, apakah mama mau didoakan romo? Mama jawab, ya. Hingga tiga kami suami saya menanyakan hal yg sama dan dijawab tegas dan jelas oleh mama, Ya!
Saat itu saya masih bertanya2 dlm hati, apakah mungkin romo mau mendoakan mama? Mama ‘kan bukan Katolik…

Karena sore hari itu sekretariat kapel rumah sakit tempat mama dirawat di Malang sudah tutup, dan suami akan kembali ke Surabaya, maka keesokan harinya, Jumat 25 Nopember 2011 kakak saya datang ke sekretariat kapel rumah sakit dan menemui Romo Ignatius Irwanto, Pr.

Luar biasa! Dlm usia 71 thn, mama tidak hanya mau berdoa dan didoakan, namun mama bersedia “menyerahkan dirinya” utk dibaptis oleh Romo dan saat itu juga Romo memberikan sakramen perminyakan utk mama.

Seringkali kita berharap, dgn sakramen perminyakan itu maka Tuhan dapat mengabulkan doa kita yaitu mengangkat segala penyakit yg mama derita dan mama bisa segera sembuh. Kembali berkumpul bersama kami seperti sebelumnya.

Keesokan harinya, di luar harapan kami, ternyata kondisi mama semakin jauh menurun. Koma. Pada hari Minggu siang, 27 Nopember 2011 kami masih sempat berdoa rosario bersama mama yg saat itu sudah tidak mampu bicara dan dgn nafas satu-satu dari mulutnya. Doa kami saat itu, “Ya Tuhan yg Maha Baik, Engkau tahu kami sangat menyayangi mama. Jangan biarkan mama menderita terus seperti ini. Biarlah kami ikhlas menerima kuasa-Mu dan selalu berupaya memberikan yg terbaik utk mama.”

Beberapa menit setelah doa rosario selesai, mama menghembuskan nafas terakhir dgn tenang, damai, sangat damai…

Tidak ada waktu yg terlambat bagi Tuhan, segala sesuatu indah tepat pd waktu-NYA. Melihat begitu tenang dan damainya mama pergi menghadap kpd-NYA, sesaat setelah kremasi, papa menyatakan keinginannya kpd kami utk dibaptis secara Katolik. Tepat hari Kamis, 8 Desember 2011 papa Agustinus Djoko Efendie (76 tahun) dibaptis oleh Romo Ignatius Irwanto, Pr.

Seharusnya hari Natal 2011 ini adalah Natal Pertama kami merayakannya bersama kedua orangtua kami. Tetapi kami percaya mama telah bahagia merayakan Natal bersama Yesus di surga.
Tuhan telah menyelamatkan kedua orangtua kami dan menghapus segala dosanya di dunia selama ini. Tuhan, pertemukan kedua orangtua kami kelak di taman surga-Mu yang kekal dan abadi selamanya. Amin…
“Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan2 orang benar”

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARTIKEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s