Prosesi Jalan Salib dan Jumat Agung di Indonesia

Prosesi Jalan Salib dan Jumat Agung di Indonesia

Kompas, Jumat, 22 April 2011.

Mengular, Jalan Salib Puhsarang

Jimmy Hitipeuw

Jemaat gereja Maria Lourdes Puhsarang, Kediri saat menggelar ibadah jalan salib, Jum’at (22/4)2011)

KEDIRI, KOMPAS.com — Prosesi jalan salib di Gereja Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri, Jawa Timur, diikuti oleh ratusan jemaatnya. Antusiasme tersebut membentuk untaian barisan manusia yang mengular.

Jalan salib atau juga dikenal Via Dolorosa tersebut dimulai pada pukul 07.30. Sedikitnya diikuti oleh 525 jemaat gereja setempat.

Dalam ritual tersebut, mereka menyusuri sebuah jalur sejauh 1 kilometer sebagai miniatur jalur yang merefleksikan kesengsaraan Tuhan Yesus saat menuju Golgota. Di setiap titik tertentu mereka berhenti pada perhentian yang telah ditandai dengan patung yang membentuk cerita jalan salib.

Ada 15 perhentian yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, di antaranya diorama Yesus saat tengah diturunkan dari salib dan diorama Yesus saat menghibur perempuan-perempuan yang menangisinya.

Di setiap perhentian tersebut, pemimpin rombongan membacakan doa dengan diikuti oleh semua jemaat. Romo Thomas Suparno MC, pemimpin jalan salib, mengatakan, ibadah tersebut mempunyai arti perlunya menghayati cinta kasih tuhan yang sampai mengorbankan dirinya demi umatnya.

“Ini yang perlu diteladani oleh pengikutnya,” ujar Romo Thomas Suparno, Jumat (22/4/2011). Sementara makna yang perlu diambil dari adanya ibadah tersebut, Romo Thomas menambahkan, setiap umat harus senantiasa meningkatkan keimanannya dengan saling mencintai.

“Mencintai orang yang berdosa, mencintai musuh, serta mencintai keluarga dan Bapa,” katanya. Sain (55), seorang jemaat, mengatakan, dirinya selalu mengikuti ibadah tersebut setiap tahun.

Untuk tahun ini, wanita tersebut berdoa agat senantiasa mendapat keberkahan. “Semoga keluarga tetap dalam ketenangan dan kedamaian,” ujarnya.

Sementara itu, ibadah di gereja yang dibangun sejak tahun 1931 masehi tersebut juga banyak diikuti oleh jemaat yang berasal dari luar daerah. Mereka mengaku sengaja datang ke tempat tersebut karena lebih mudah memvisualisasikan apa yang ada dalam Alkitab.

“Kalau di sini akal saya lebih mudah memahami,” ujar Sukir (73), jemaat yang datang dari bersama rombongan dari Magetan ini. Oleh karena itu, kakek yang baru pertama datang ke Puhsarang ini menambahkan, dirinya kini semakin mantap dan merasa kuat keyakinannya terhadap Tuhan Yesus.

“Lebih kuat yakinnya,” katanya. Terpisah, Floreanus Josef Lasio, Kepala Bagian Humas Gereja yang diarsitekturi oleh Hendrikus Maiclin Pon tersebut, mengatakan, jumlah jemaat tahun ini berkurang daripada tahun lalu.

“Mungkin karena cuaca yang tidak menentu,” ujar pria yang mempunyai nama panggilan Lasio itu.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Metrotvnews.com, Jumat, 22 April 2011

Ribuan Umat Katholik Manggarai Ikuti Prosesi Jalan Salib

Metrotvnews.com, Manggarai Barat: Ribuan umat Katolik di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur mengikuti prosesi jalan salib, untuk mengenang peristiwa wafatnya Yesus Kristus.

Perayaan Jumat Agung di Labuan Bajo diwarnai dengan prosesi jalan salib yang berlangsung selama dua jam dan dipusatkan di halaman Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Labuan Bajo.

Proses jalan salib di wilayah itu, diwarnai pementasan drama yang mengisahkan tentang sengsara dan wafat Yesus Kristus yang diyakini sebagai juru selamat dunia.

Pementasan drama itu dimainkan puluhan siswa SMA Katolik Seminari Santo Paulus Labuan Bajo dan diikuti ribuan umat Katolik setempat.

Selain jalan salib ribuan umat Katolik di wilayah itu juga akan mengikuti perayaan cium salib yang dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 15.00 waktu setempat.(RIE)

Video: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/04/22/126782/Ribuan-Umat-Katholik-Manggarai-Ikuti-Prosesi-Jalan-Salib

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ANTARA News, Jumat, 22 April 2011

Jalan Salib Awali Jumat Agung di Minahasa

Minahasa (ANTARA News) – Perayaan jalan salib yang merupakan rangkaian mengenang sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus Sang Penyelamat Dunia, mengawali perayaan Jumat Agung umat Katolik di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara(Sulut), Jumat.

“Jalan salib dengan cara jalan kaki tanpa alas kaki keliling kampung dimulai pukul 05.00 hingga pukul 07.30 Wita merupakan ritual umat yang sudah berlangsung bertahun-tahun yang dimaksudkan mengenang kisah sengsara Yesus,” kata Pastor Paroki Kristus Raja Kembes, AE Wignyo Seputra MSC, ketika memimpin jalan salib di Stasi Rumengkor, Minahasa, Jumat.

Pastor Wignyo mengatakan, ada 14 perhentian yang dikenang umat dalam perayaan jalan salib tersebut, diawali peristiwa Yesus Dijatuhi Hukuman Mati di sidang mahkamah agama meskipun Pilatus sang pengadil sudah menyatakan tidak menemukan kesalahan apapun terhadap Yesus.

“Peristiwa ini mau mengingatkan umat Katolik agar tetap setia dalam iman dan dalam kehidupan sehari-hari kendati harus melewati penderitaan yang sangat berat seperti yang sudah diperlihatkan Yesus,” kata Romo Wignyo.

Selanjutnya umat diajak untuk rela memikul beban yang berat menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari yang dilambangkan dalam peristiwa Yesus Memanggul Salibnya, Yesus Wafat disalib hingga peristiwa terakhir Yesus dimakamkan.

Ketua Dewan Pastoral Umat Katolik Stasi Rumengkor, G Merung, mengatakan, sekitar 1500 umat tersebar di 12 wilayah rohani di stasi tersebut mengikuti jalan salib.

“Mengenang sengsara Yesus melalui jalan salib maka umat Katolik diharapkan semakin meningkatkan iman dan taqwa terhadap sang pencipta penyelamat kehidupan, serta mampu tabah dan sabar menghadapi lika-liku kehidupan yang terasa berat sekalipun,” kata Merung.

Dalam jalan salib ini, umat selain berdoa dan bernyanyi juga menunjukkan sikap matiraga karena rela melakukan sujud (berlutut) selama perjalanan sekitar 1,5 jam tersebut.

Rangkaian ibadah Jumat Agung akan diakhiri upacara kematian Tuhan Yesus dan dilanjutkan dengan menerima tubuh dan darah Kristus dalam bentuk Ekaristi suci yang dilaksanakan secara serentak di semua gereja Katolik Keuskupan Manado pada pukul 15.00 Wita.

Jumat Agung merupakan salah satu rangkaian perayaan pekan suci umat Katolik menjelang Paskah, diawali Minggu Palma (pekan lalu), Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Perayaan Paskah pada Minggu 24 April 2011.

(ANTARA/S026)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ANTARA News, Jumat, 22 April 2011

Umat Katolik Merapi Gelar “Jalan Salib Garu”

Magelang (ANTARA News) – Puluhan pemeluk Katolik lereng barat Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar prosesi “Jalan Salib Garu” untuk mengenang wafat Yesus Kristus. Acara ini adalah salah satu rangkaian perayaan Pekan Suci Paskah.

Prosesi yang pada tradisi gereja disebut Jumat Agung itu ditandai dengan berdoa sambil berjalan kaki melalui beberapa perhentian, mulai dari tanah lapang di pinggir Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di Magelang, sampai gedung yang mereka sebut “Gubug Selo Merapi (GSPi).

Rangkaian persembahyangan jalan salib Jumat Agung di sepanjang sekitar 500 meter itu dipimpin prodiakon Stasi Santo Paulus Lor Senowo (Utara Sungai Senowo), Desa Mangusoko, Antonius Suharto (57).

Mereka berdoa dan menyanyikan lagu rohani Katolik secara takzim.

Dua remaja setempat, Rio dan Suraji. mengenakan kain putih dan tutup kepala, caping, menyeret garu sebagai gambaran Yesus memanggul salib dari Yerusalem menuju Gunung Golgota.

Caping yang mereka kenakan sebagai pengganti mahkota duri yang dikenakan kepada Yesus selama menempuh jalan penyaliban.

Para pelaku “Jalan Salib Garu” mengenakan pakaian khas petani setempat.

Koreografer Prosesi “Jalan Salib Garu”, Susanto, mengemas rangkaian peringatan Jumat Agung itu bernuansa petani Merapi dengan melibatkan remaja setempat.

“Yesus sengsara memanggul salib, menderita hingga wafat disalib, untuk menebus dosa manusia, membela orang kecil seperti kami para petani Merapi ini,” kata Susanto yang juga petani di situ.

Ia mengatakan, garu adalah alat utama petani untuk mengolah dan meratakan tanah sebelum ditanami komoditas pertanian.

Garu, katanya, bagi petani setempat bagaikan salib yang membawa keselamatan dan kedamaian.

“`Jalan Salib Garu` direnungkan petani sebagai kesediaan untuk rela berkorban sebagaimana Yesus mengorbankan dirinya disalib, supaya kehidupan menjadi penuh ketenteraman dan kedamaian karena dosa manusia telah ditebus oleh kematian Yesus,” katanya.(*)

M029*M028

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ANTARA News, Jumat, 22 April 2011

1.000 Warga Ikuti Misa di Katedral Medan

Medan (ANTARA News) – Sekitar 1.000 warga Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat mengikuti misa di Gereja Katedral di Jalan Pemuda Medan dalam rangka memperingati wafat Yesus Kristus 2011.

Misa yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu dipimpin Pastur Pembantu Katedral Medan Pendeta Prasetyo Laurensius.

Dalam khutbahnya, Pendeta Prasetyo Laurensius mengajak umat Kristiani untuk meniru sikap Yesus Kristus yang tahan terhadap terhadap berbagai ujian dan kesengsaraan.

Dengan sikap tersebut, umat manusia akan memiliki keikhlasan, sekaligus semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Dengan kesengsaraan ada ketekunan yang memunculkan sikap tahan uji. Dengan ketahanan terhadap ujian, muncul harapan,” katanya.

Proses misa yang mendapatkan pengaman dari sejumlah personel kepolisian dan aparatur pemerintahn setempat itu berakhir sekitar pukul 10.00 WIB.

Kepala Seksi Keamanan Gereja Katedral Medan Erwin Yapen mengatakan, proses misa itu akan berlanjut hingga Minggu (24/4).

Sedangka untuk hari itu, proses misa akan dilanjutkan pada pukul 15.00 WIB sebagai bentuk “Misa Agung” yang diperkirakan akan diikuti jemaat yang lebih banyak.

“Itu untuk memperingati puncak penderitaan Yesus Kristus,” katanya.

Proses misa tersebut mendapatkan pengamanan dari delapan personel Polresta Medan dan tujuh personel Polsekta Medan Kota.

“Berlangsung terus hingga Minggu,” kata Kepala Tim Pengamanan Aiptu Suharto.

Sementara itu, kebaktian di Gereja HKBP Uskup Agung Medan diikuti sekitar 400 jemaat, salah satunya Wakapolda Sumut Brigjen Pol Sahala Allagan.

Proses kebaktian di Gereja HKBP Uskup Agung Medan tersebut dipimpin Pendeta Sondang Hutahaean, STh.

(ANTARA/S026)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

ANTARA News, Jumat, 22 April 2011

Umat Kristiani Biak Peringati Paskah

Biak (ANTARA News) – Ribuan umat kristiani berbagai denominasi gereja di Kabupaten Biak Numfor, Papua, sejak Kamis (21/4) malam hingga Jumat pagi memperingati rangkaian Paskah yakni wafat Yesus Kristus melalui ibadah dan kemah bersama di sekitar gereja setempat.

Hingga Jumat pukul 07.15 WIT aktivitas masyarakat Kota Biak dan sekitarnya tampak normal antara lain ditandai dengan operasional taksi dan ojek seperti hari biasa.

Di berbagai gereja terlihat umat kristiani merayakan rangkaian Paskah. Mereka antara lain menyayikan lagu-lagu rohani, sedangkan anak-anak mengikuti beragam permainan kelompok sekolah minggu di lokasi kemah Paskah.

Sekitar seribu umat Katolik ibadah Kamis Putih untuk mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama para murid dan melanjutkan dengan peringatan Jumat Agung mengenang jalan salib yang dilakukan Yesus hingga wafat.

Ibadat mereka dipusatkan di Gereja Paroki Santa Maria, Jalan Muhamad Yamin, Kelurahan Mandala, Biak.

Sebagian halaman rumah warga di berbagai kampung dan distrik dipasangi lampu minyak sebagai simbol penerang untuk setiap orang yang percaya terhadap ajaran dan penderitaan Yesus Kristus.

Salah seorang umat kristiani Biak, Mansar Kafiar, mengatakan, rangkaian Paskah diperingati umat Kristen setempat dengan penuh suka cita di setiap gereja melalui kegiatan rohani.

“Perayaan Paskah biasanya diisi dengan kegiatan ibadah, berkemah bersama, merangkai aksesoris nuansa Paskah berupa pembuatan kayu salib, menghias telur Paskah bahkan membuat replika kuburan untuk mengenang penderitaan Yesus Kristus,” katanya.

Wakil Sekretaris Badan Pekerja Gereja Kristen Injili Klasis Biak Selatan, Jotam Simopiaref, mengatakan, peringatan Paskah dilaksanakan warga di setiap gereja melalui berbagai pembinaan iman.

“Setiap umat kristiani akan mengisi kegiatan ibadah Paskah, tempat kegiatan dipusatkan di jemaat gereja masing-masing,” katanya. (M039/M029/K004)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++

suarasurabaya.net, Jumat, 22 April 2011

Jalan Salib Awali Jumat Agung di Gereja Katedral Jakarta

suarasurabaya.net| Visualisasi Jalan Salib yang merupakan rangkaian mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus mengawali perayaan Jumat Agung di Gereja Katedral Jakarta, berlangsung aman dan tertib.

Ribuan umat Katolik dengan khidmat mengikuti prosesi Jalan Salib sejak dari Yesus dijatuhi hukuman sampai kematiannya di tiang salib di Bukit Golgota.

Dilaporkan JOSE ASMANU reporter Suara Surabaya di Jakarta, Jumat (22/04), muda mudi Gereja St Perawan Maria yang memperagakan jalan salib, mampu membuat jemaat terkesima, haru dan bercucuran air mata melihat penderitaan Yesus.

Jumat Agung merupakan salah satu rangkaian perayaan pekan suci umat Katolik menjelang Paskah, diawali Minggu Palma (pekan lalu), Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci 23 April 2011.

Visualisasi Jalan Salib di Gereja Katedral ini dilanjutkan ibadah Paskah pada pukul 12.00, 15.00, dan 18.00 WIB.(ipg)

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

suarasurabaya.net, Jumat, 22 April 2011

Air Mata Menitik Saksikan Sengsara YESUS

suarasurabaya.net| Saat YESUS mendapat siksaan dari para prajurit yang mengawalnya menuju bukit Golgota, dalam visualisasi Jalan Salib, Jumat (22/04) ternyata tidak sedikit umat Katolik digereja Katolik Hati Kudus Yesus, Surabaya menitikkan air mata.

Beberapa umat terlihat mengusap mata dan menghapus air mata yang menitik disudut-sudut mata mereka, menyaksikan YESUS dalam sengsaranya memanggul salib serta mendapat siksaan secara fisik dari para prajurit HERODES.

“Sedih. Sekaligus membayangkan betapa sakit dan menderitanya YESUS ketika harus memanggul salibnya dan disiksa para prajurit sebagai bentuk penebusan dosa manusia oleh YESUS,” ucap MARIA VERONIKA satu diantara umat gereja Katolik HKY Surabaya.

Bagi MARIA, menyaksikan via dolorosamerupakan bagian dari mengikuti Jalan Salib dalam rangka menyambut Paskah di setiap tahun. “Sepertinya memang sebuah penderitaan yang harus diikuti oleh manusia jika ingin mendapatkan tempat di surga. Dan itu sudah dicontohkan YESUS pada via dolorosa,” lanjut MARIA pada suarasurabaya.net, Jumat (22/04).

Air mata yang menitik disudut mata VINCENTIA WIGATI, 52 tahun, warga Jl. Darmo Permai, Surabaya, Jumat (22/04) saat mengikuti misa Jalan Salib, diakuinya merupakan kesedihan tak tertahankan saat menyaksikan visualisasi penderitaan YESUS ketika menuju bukit Golgota tempat disalibkan.

“Mungkin karena pemainnya juga cukup bagus dan bermain dengan serius sehingga membuat umat yang hadir menjadi merasa ikut dalam perjalanan penderitaan YESUS saat memanggul salibnya. Lebih dari itu, penderitaan YESUS memang perlu diteladani,” ujar VINCENTIA WIGATI.

Digereja Hati Kudus Yesus, Jl. Polisi Istimewa, Surabaya, misa Jalan Salib, Jumat (22/04) digelar mulai sekitar pukul 08.00 wib, sedangkan pada petangnya, sengsara YESUS bakal ditandai dengan misa suci Jumat Agung.(tok)

++++++++++++++++++++++++++++++++++

suarasurabaya.net, Jumat, 22 April 2011

Jalan Salib St Algonz, Satir Buat Manajemen Airlangga

suarasurabaya.net| Sebanyak 14 perhentian Yesus dalam Jalan Salib jadi simbolisme yang disampaikan Keluarga Mahasiswa Katolik St Algonz Universitas Airlangga. Prosesi ini digelar bersamaan Jumat Agung di kampus C Universitas Airlangga, Jumat (22/04).

Ada 2 isu utama yang disampaikan mahasiswa dalam prosesi Jalan Salib, yaknis refleksi hilangnya BIMO PETRUS aktivis mahasiswa Fisip Unair yang tidak ada kabar beritanya sejak 13 tahun lalu dan soal semakin mahalnya biaya kuliah di Unair.

GREGORIUS RONNY HENDRAWAN Ketua Panitia Memikul Salib Bersama Yesus Keluarga Mahasiswa Katolik St Algonz Universitas Airlangga mengatakan tiap perhentian Yesus dalam Jalan Salib punya pesan yang relevan dengan kondisi mahasiswa dan masyarakat kini.

Contohnya saja dalam perhentian pertama dimana Yesus diputus hukuman mati. Kata RONNY, ini dimaknai persoalan PHK yang marak belakangan ini. “Dalam perhentian pertama, kami merobek kertas dengan tulisan PHK, sebagai simbolisasi penolakan terhadap PHK massal yang menyengsarakan kaum pekerja,” kata RONNY.

Perhentian ketiga, Yesus jatuh untuk pertama kali dalam Jalan Salib dimaknai para mahasiswa sebagai momentum untuk membuang sikap apatis, lebih peduli dan sensitif terhadap persoalan sosial yang ada,” kata dia.

Pada perhentian keduabelas, para mahasiswa mengambil posisi di samping gedung Rektorat Unair. Dalam Jalan Salib, ini adalah saat Yesus Kristus wafat di kayu salib. Oleh mahasiswa dimaknai sebagai simbol tuntutan pada Universitas Airlangga agar tidak melupakan BIMO PETRUS sekaligus mendesak dibatalkannya rencana kenaikan biaya SP3 dan Ikoma yang memberatkan buat mahasiswa dengan latar belakang keluarga miskin.

Prosesi Jalan Salib ini dimulai dari Auditorium dan berkeliling seputar Kampus C, diikuti oleh sekitar 55 mahasiswa Unair dari berbagai fakultas.(edy)

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

suarasurabaya.net, Jumat, 22 April 2011

Triduum Paskah, Umat Katolik Surabaya Masuki Jumat Agung

suarasurabaya.net| Triduum Paskah atau dikenal dan sering disebut sebagai Tiga Hari Suci menjelang Paskah, Jumat (22/04) ini memasuki Jumat Agung. Sebelumnya umat Katolik di Surabaya mengikuti misa Kamis Putih pada Kamis (21/04) lalu.

Disejumlah gereja Katolik di Kota Surabaya, Jumat (22/04) ini digelar Jalan Salib yang diwarnai dengan via dolorosa atau visualisasi tentang sengsara YESUS dengan kayu salibnya menuju bukit Golgota.

Digereja Katolik Roh Kudus, Puri Mas, Surabaya, Jumat (22/04) misa jalan salib ditandai dengan hadirnya para muda mudi Katolik gereja yang berada ditengah-tengah pemukiman elit dikawasan Rungkut, Surabaya.

Sejak sekitar pukul 07.00 wib, umat Katolik khusuk mengikuti jalan salib yang sebelumnya sudah dilakukan sejak sekitar sebulan yang lalu. “Jumat (22/04) ini bertepatan dengan Jumat Agung, jalan salib diwarnai dengan visualisasi jalan salib yang dimainkan mudika,” ujar ANTONIUS WILLAR satu diantara mudika gereja Katolik Roh Kudus, Jumat (22/04).

Digereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dikawasan Jl. Kepanjen, Surabaya, Jumat (22/04) juga menampilkan happening art tentang sengsara YESUS sampai dikayu salib menjelang kebangkitannya.

Menurut ANDREAS, secara rutin setiap tahun, sebagai puncak jalan salib digereja Kepanjen tersebut digelar via dolorosa. “Untuk jalan salib terkahir memang dipuncaki happening art sengsara YESUS sampai wafat di kayu salib,” terang ANDREAS pada suarasurabaya.net.

Via dolorosa juga ditampilkan mudika Katolik gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya, Jumat (22/04) sebagai bagian dari triduum Paskah. “Setelah Kamis Putih, dilanjutkan Jumat Agung dan memang selalu ditandai via dolorosa,” kata MATHEUS TUTUT TEJO satu diantara anggota mudika gereja HKY Surabaya, Jumat (22/04).

Setelah Kamis Putih, dilanjutkan dengan Jumat Agung dan diakhiri Sabtu Suci, sebagai satu rangkaian perayaan ekaristi menjelang Paskah, yang tidak bisa dilepaskan dan merupakan rangkaian ibadat. “Karena itu saling berkaitan dan satu rangkaian,” tukas Romo HARYO PRANTOTO Pr, Romo Paroki HKY Surabaya pada suarasurabaya.net, Jumat (22/04).(tok)

++++++++++++++++++++++++++++++++

 suarasurabaya.net, Jumat, 22 April 2011

Via Dolorosa Warnai Jumat Agung di Gereja HKY Surabaya

suarasurabaya.net| Masih dalam rangkaian menyambut Paskah 2011, Jumat (22/04) muda mudi Katolik (mudika) gereja Katolik Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya, menampilkan via dolorosa, visualisasi sengsara Yesus pada Jumat Agung.

Via dolorosa, dimulai dari pertemuan YESUS bersama dengan para muridnya, sebelum ditangkap prajurit untu dibawa menuju raja HERODES untuk kemudian diadili. Dihadapan rakyatnya, ternyata YESUS justru harus dihukum.

Dan sebagai puncaknya, YESUS harus memanggul salibnya menuju bukit Kalvari atau bukit Golgota, untuk disalibkan. Dalam perjalanannya menuju bukit itu, YESUS harus menanggung penderitaan.

Tidak hanya beratnya kayu salib yang dipanggul, tetapi siksaan dan hajaran para prajurit, membuat YESUS semakin menderita. Bahkan beberapa kali YTESUS terjatuh karena kelelahan dan beratnya penderitaan.

Sesampainya di bukit Golgota, jubah YESUS dilepaskan dan kemudian YESUS disalibkan, setelah sebelumnya sempat dimahkotai duri. Setelah disalibkan, para prajurit yang tetap menganggap YESUS oranggila, menusuk lambungnya dengan tombak.

Setelah lebih dari 3 jam diatas kayu salib, YESUS diturunkan dari kayu salib, dan jenasahnya sempat dipeluk dan dipangku MARIA ibunya. Lalu jenasah YESUS dimakamkan pada sebuah gua sederhana, dan tepat pada hari ketiga YESUS bangkit menuju surga.

Menurut Romo HARYO PRANOTO Pr, penampilan visualisasi jalan salib atau dalam bahasa latin dikenal sebagai Via dolorosa, pada Jumat (22/04) merupakan bagian dari prosesi jalan salib yang sudah dilakukan umat Katolik dalam rangka menyambut Paskah.

“Untuk memberikan gambaran tentang bagaimana sengsara YESUS ketika harus memanggul kayu salib, sebagai bentuk penebusan dosa yang dilakukan untuk setiap manusia. Visualisasi jalan salib ini juga merupakan bagian akhir dari seluruh rangkaian Jalan Salib yang sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu,” ungkap Romo HARYO PRANOTO Pr, saat ditemui suarasurabaya.net, Jumat (22/04), usai pelaksanaan jalan salib.(tok)

+++++++++++++++++++++++++++++++++

Jurnas.com, Jumat, 22 April 2011

Pengamanan Misa Jumat Agung Ketat

Jurnas.com |

PENJAGAAN Misa memeringati Hari Kematian Yesus Krsitus di Gereja Paroki Santo Paulus, Depok kali ini lain dari biasanya.

Jika perayaan sebelumnya hanya dijaga aparat polisi dan tentara tanpa senjata lengkap, kali ini aparat TNI melengkapi diri dengan senjata laras panjang. Mereka tampak siaga di depan pintu masuk gereja. Tas setiap umat yang masuk diperiksa.

TNI menerjunkan sekitar 6 personil, sedangkan kepolisian 2 orang, tidak terhitung polisi yang mengamankan kelancaran lalulintas.

Misa Jumat Agung dijadwalkan dimulai pukul 15.00. Hingga saat ini umat masih terus berdatangan. Pintu masuk cukup padat, karena panitia hanya menyediakan satu pintu masuk.

Penulis: Fransiskus Saverius Herdiman

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

KOMPAS.com, Jumat 22 April 2011

Metal Detector Temani Misa Jum’at Agung

DENPASAR, KOMPAS.com – Status siaga I terhadap serangan teroris juga diberlakukan di Bali. Ini terlihat saat pengamanan Misa Jum’at Agung di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Lembah Pujian Rock Ministry, Denpasar, Jum’at (22/04/2011).

Sebanyak 35 personel gabungan Samapta Polda Bali, Polresta Denpasar dan Polsek Denpasar Barat, disiagakan untuk mengamankan jalannya ibadah misa.

Aparat kepolisian yang dilengkapi senjata laras panjang pun tampak berjaga di depan pintu masuk gereja. Jemaat yang mulai berdatangan sejak pukul 09.00 WITA diperiksa satu persatu oleh polisi. Seluruh tas dan barang bawaan jemaat tak luput dari screening peralatan metal detector.

Setelah seluruh ruang misa dan jemaat dinyatakan steril dari benda-benda berbahaya, misa Jum’at Agung akhirnya dapat dimulai pukul 10.00 WITA. Sekitar 2.500 jemaat dengan khidmat mengikuti misa yang dipimpin oleh pendeta Ronny Daud Simeon ini.

“Hingga saat, ini tidak ada gangguan yang berarti, siaga I diberlakukan hingga ada pemberitahuan dari atasan,” kata Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Dewa Made Adnyana.

Dari pantauan Polsek Denpasar Barat, pelaksaan misa Jum’at Agung di 24 gereja yang ada di wilayah mereka sejauh ini juga berlangsung aman.

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARTIKEL and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s