Surat Gembala

Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019
Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya

(Dibacakan di semua gereja dan kapel Keuskupan Surabaya, tanggal 1 & 2 Januari 2011, sebelum homili)

Kita bersyukur bahwa Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019 (Ardas) sudah berjalan satu tahun dan pelaksanaan Ardas tahun 2010 sebagai tahun “Keluarga dan Habitus Baru Hidup Menggereja” terus menerus kita upayakan bersama perwujudannya. Saya menyampaikan apresiasi yang sedalam-dalamnya bagi para Romo Paroki dan Dewan Pastoral Paroki serta seluruh perangkat pastoral yang telah berupaya dengan penuh semangat dalam mengkomunikasikan Ardas kepada warganya.
Saya mengajak semua saja, baik yang penuh semangat, yang kurang bersemangat atau pun yang belum berupaya, marilah terus berjuang membantu, mengawal dan memperlancar dalam proses mewujudkan kegiatan pastoral yang berkontribusi dengan prioritas program Ardas sebagai gerak bersama dalam membangun persekutuan. Dengan demikian arah gerak hidup menggereja Keuskupan Surabaya akan semakin terarah pada ‘cita-cita bersama’.


Tahun pertama dalam proses mengkomunikasikan dan mengimplementasikan Ardas ini, ada banyak pengalaman, kesan, tanggapan yang muncul dan nilai-nilai yang dapat kita timba bersama. Seorang Romo Paroki mengatakan: “kami tidak mempunyai tim khusus yang membicarakan, memikirkan soal Ardas, tetapi kami selalu membicarakan dalam rapat DPP baik Harian maupun Inti”. Yang lain menemukan nilai kesadaran bahwa kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan itu memang belum berkontribusi pada Ardas. Mereka mau mempelajari lagi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Ardas telah memberi harapan konseptual bahwa kita dapat membuat perencanaan pastoral dengan arah yang jelas. Arah bersama ini diharapkan mampu menggerakkan kita semua (shared concepts and hopefully perceptions).

Tanda-tanda harapan itu makin jelas dengan adanya orang yang mau belajar, ada keinginan untuk memperbaiki, upaya untuk mensinergikan program yang sudah ada dengan Ardas. Nampak ada keterbukaan hati dan kerelaan untuk menolong yang lain. Hal-hal tersebut kiranya makin mendorong dan menyemangati kita semua untuk melakukan hal yang sama.
Kerelaan hati untuk menolong (shared feeling) dalam kebersamaan ini perlu terus menerus diupayakan, diperjuangkan di antara para perangkat pastoral baik di tingkat paroki maupun kevikepan. Dengan menolong, membagikan pengetahuan dan pengalaman kita, maka apa yang kita punyai itu akan semakin berlipat ganda. Ini akan semakin menunjang gerak bersama serta mengikis sikap yang hanya memikirkan diri sendiri. Semangat untuk mengembangkan kerelaan hati untuk saling menolong bisa semakin diperkuat dengan memanfaatkan jalur-jalur struktural yang sudah ada. Karena itu Forum Kolegialitas antarimam, Forum Pastoral Kevikepan, Forum Pastoral Serumpun maupun Forum Romo Vikep, perlu makin diperkuat. Melalui penguatan forum-forum tersebut, komunikasi, koordinasi, partisipasi gerak pastoral bersama akan makin lancar dan berkesinambungan.
Dari hasil kunjungan ke paroki-paroki, dapat dimengerti bahwa ditemukan banyak kesulitan. Seorang anggota Tim Surveyor memperoleh kesan dari jawaban yang diberikan, bahwa ada dari mereka yang belum mempelajari ‘Panduan Umum Pelaksanaan Ardas’ secara utuh, sehingga nampak bingung dan ada upaya membela diri dengan mengatakan: “Ardas itu terlalu sulit, dan tidak realistis”. Inilah ungkapan orang bingung dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
Saya bisa mengerti juga bahwa suatu perubahan adalah suatu yang berat, karena mengandaikan suatu pengalaman akan perubahan paradigma (paradigm shift). Saya bisa ikut merasakan kesulitan-kesulitan, di mana kita diminta untuk berubah. Kita belum terbiasa dengan langkah-langkah pengelolaan program. Karena itu orang menjadi bingung, tidak paham, minta waktu, sampai acuh tak acuh, dan lain-lain. Ini pertanda bahwa kita masih enggan untuk meninggalkan zona nyaman hidup kita. Kesulitan-kesulitan tersebut haruslah kita kelola dengan baik. Karena itu saya mengajak semua saja untuk tetap bersemangat mengembangkan kebersamaan hidup menggereja dan keserempakan dalam bekerja. Kita mengandalkan Allah yang juga bekerja melalui keterbukaan hati, kesediaan kita untuk mengatasi kesulitan, kemauan mencari bantuan, merelakan diri untuk menolong dan mengembangkan jalinan kerjasama. Semoga Roh Kudus mendorong kita semua untuk berbuat sesuatu dengan kerendahan hati, karena kita menyadari bahwa kita ini lemah dan enggan berubah. Di sini dibutuhkan tindakan-tindakan proaktif dan tindakan kepeloporan, yang akan menginspirasi yang lain untuk melakukan hal yang sama.
Arah dan pola pastoral kita yang berbasis persekutuan mengandalkan adanya pola keserempakan gerakan bersama supaya dapat berjalan dengan lancar dan berkesinambungan. Pola ini sangat dipengaruhi oleh para imam bersama perangkat pastoral lainnya yang diresapi dan dijiwai semangat yang sama. Karena itu amat penting kita mengembangkan komunitas pelayanan (communio ministerialis). Kebersamaan ini mulai dapat terwujud bila setiap paroki dan kevikepan menyadari pentingnya memiliki semangat dan gerak kerjasama sebagai satu tim yang secara terus menerus berupaya mengobarkan semangat yang sama dalam mengkomunikasikan, mengarahkan dan mengawal Ardas.
Di sini kita memang mengandalkan para perangkat pastoral, yang merupakan orang-orang kunci dalam mengkomunikasikan dan mengimplementasikan Ardas. Peran Dewan Pastoral Paroki beserta perangkatnya, kiranya perlu dioptimalkan. Kita menyadari masih banyak tantangan, misalnya orang belum biasa membicarakan perkara-perkara pastoral, orang suka tinggal dalam zona nyaman, budaya instan, mencari mudahnya saja, tidak mau berusaha mengatasi kesulitan, bergerak tanpa berusaha memperjelas tujuan, dan lain-lain. Meski banyak tantangan hendaknya kita tetap bertekun, dalam memahami, mengerti dan melaksanakan Ardas dengan semangat yang tepat. Seperti Abraham yang dipanggil menuju tanah terjanji, kendati masa depan belum pasti, tapi dia berani mengikuti panggilan Allah (bdk. Kej 12:1-9)
Tahun 2011 ini, marilah bersama-sama memasuki tahun kedua dengan fokus perhatian Ardas pada bidang pastoral ‘Anak dan Katekese’. Kita berharap, berdasarkan pengalaman tahun pertama, tahun kedua ini akan menjadi lebih baik.
Tahun Anak merupakan kesempatan yang amat baik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendamping anak. Diperlukan banyak pendamping yang memiliki kecintaan pada anak, yang bukan hanya sekedar menyampaikan pengetahuan belaka, namun membantu dan memberikan teladan pada mereka untuk membentuk pola-pola hidup Katolik. Hendaknya diusahakan agar dalam ingatan, pikiran dan hati mereka dapat tertanam kebenaran-kebenaran hakiki dalam iman, kesusilaan dan kejujuran yang meresapi seluruh hidup mereka.
Tahun Katekese merupakan undangan bagi kita semua untuk menyadari identitas kita sebagai pewarta. Aspek kenabian Gereja dapat diaktualkan dalam arti yang sebenarnya dalam berkatekese. Katekese merupakan suatu pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman agar seseorang semakin dewasa dalam iman. Para Katekis mempunyai peran penting untuk melengkapi katekese umat dengan pengetahuan iman yang benar, sehingga umat semakin mantap dalam memahami, menghayati dan mengamalkan iman.
Dengan penuh kegembiraan dan syukur saya menetapkan tahun 2011 mulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember menjadi “Tahun Anak dan Katekese”. Dua prioritas program untuk bidang pastoral Anak adalah (i) Pembinaan dan pendampingan iman anak, (ii) Pengembangan kuantitas dan kualitas orang yang terlibat dalam pastoral anak-anak. Nilai yang dihayati adalah kejujuran dan kecintaan pada anak. Sementara dua prioritas program untuk bidang pastoral Katekese adalah (i) Pengembangan kuantitas dan kualitas orang yang terlibat dalam pastoral katekese, (ii) Pengelolaan bahan katekese yang integral, kontekstual, kreatif dan berkesinambungan, bagi keseluruhan bidang-bidang pastoral. Nilai yang dihayati adalah kesediaan untuk berkembang sebagai murid dan kepedulian akan pendewasaan iman segenap umat.
Saya menghimbau agar segenap umat Keuskupan Surabaya makin mengenal, mencintai dan melibatkan diri dalam gerakan bersama hidup menggereja ini. Perlulah kita dengan rendah hati mau mendengarkan, bersedia untuk belajar dan mengembangkan diri dalam kebersamaan. Ini akan membantu kelancaran pelaksanaan setiap prioritas program bidang pastoral di semua paroki dan semua persekutuan umat beriman. Kita tanggapi panggilan akan partisipasi, peran dan tanggung jawab kita dalam rencana keselamatan Allah dan bahwa “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan oleh Allah” (Ef 2:10). Tuhan mengerjakan di dalam diri kita apa yang berkenan kepada-Nya (bdk. Ibr 13:21).
Dalam melaksanakan perwujudan Ardas ini, pertama-tama bukanlah soal kemampuan tetapi kemauan. Kemampuan bisa diasah dan ditingkatkan. Tuhan membutuhkan orang-orang yang mempunyai kemauan. Kemauan akan mendorong kita berusaha mengatasi segala macam kesulitan. Nabi Yesaya menyerukan: “Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami” (Yes 26:12).
Karena itu para saudara terkasih, “Panduan Umum Pelaksanaan Ardas” hendaknya dipelajari kembali dan diperdalam. Peran Pastor Paroki dan Dewan Pastoral Paroki, akan sangat menentukan keberhasilan implementasi Ardas ini.
Secara khusus saya mengajak kelompok-kelompok strategis, yang juga ikut serta memberikan warna dalam dinamika pastoral di Keuskupan Surabaya, untuk aktif mengkomunikasikan Ardas.

Keluarga-keluarga Katolik, di mana anggota keluarga yang pertama kali mengetahui Ardas hendaknya menyampaikannya kepada anggota keluarga yang lain sebagai kabar sukacita. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi hendaknya dapat memasukkan gagasan-gagasan pokok Ardas dalam pelajaran-pelajaran agama dan pengembangan religiositas. Seminari dan rumah-rumah bina, hendaknya sejak awal para calon dididik dan dibimbing untuk mempunyai pandangan yang luas akan karya pastoral Keuskupan Surabaya. Komunitas Hidup Bakti, agar semakin besarlah kesadaran komunitas untuk menjadi bagian dari Keuskupan Surabaya. Kelompok-kelompok kategorial, gerakan-gerakan hidup kristiani dan kelompok-kelompok doa, diharapkan dengan kekhasan masing-masing semakin berpartisipasi dalam perwujudan Ardas. Demikian pula tempat-tempat peziarahan, juga menjadi sarana mengkomunikasikan Ardas. Peziarahan umat menjadi simbolisasi peziarahan seluruh Gereja menuju rumah Bapa.
Umat Keuskupan Surabaya yang terkasih,
Tersedia bagi Anda semua, teks Doa Tahun ‘Anak dan Katekese’. Doa ini hendaknya didoakan bersama di sepanjang tahun 2011 sebagai Tahun ‘Anak dan Katekese’ dalam aneka kesempatan umat berkumpul, misalnya Perayaan Ekaristi, pertemuan atau doa lingkungan dan kelompok-kelompok kecil. Dengan doa ini kita memohon rahmat Allah agar kita dimampukan untuk menjaga dan mengobarkan semangat yang sama dan dalam jalinan kerjasama di antara kita mewujudkan Ardas Keuskupan Surabaya.
Seraya mempersembahkan diri kepada Santa Maria, Bunda Gereja, kita memohon doa dan perlindungannya. Semoga Bunda Maria mendampingi kita dalam mewujudkan Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.
Akhirnya saya ucapkan Selamat Hari Raya Natal 2010 dan Tahun Baru 2011. Semoga berkat Tuhan melimpah atas saudara-saudari sekalian beserta seluruh keluarga.

Mari kita bekerja dan berupaya mewujudkan Ardas menuju hidup yang berkelimpahan (bdk. Yoh 10:10).

 

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARAH DASAR, ARTIKEL and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Surat Gembala

  1. Rinus Pantouw says:

    ARDAS Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2011- 2015
    Informasi Tema ARDAS di KAJ (KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA) 2011-2015 dan ARDAS di KAS (KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG) 2011-2015.

    ARDAS DI KAJ 2011-2015 sebagai berikut :
    Tema : Berakar dalam IMAN, bertumbuh dalam PERSAUDARAAN berbuah dalam Pelayanan KASIH.

    dan

    ARDAS DI KAS 2011-2015 sebagai berikut :
    dikutip dari tulisan Lilik Krismantoro :

    DRAFT ARAH DASAR UMAT ALLAH
    KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2011 – 2015

    Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah sehingga semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.

    Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh, serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum.

    Langkah pastoral yang ditempuh adalah pengembangan umat Allah, terutama kaum awam, secara berkesinambungan dalam perwujudan iman di tengah masyarakat; pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel; serta pelestarian keutuhan ciptaan. Langkah tersebut didukung oleh tata penggembalaan yang sinergis, mencerdaskan dan memberdayakan umat beriman serta memberikan peran pada berbagai kharisma yang hidup dalam diri pribadi maupun kelompok.

    Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, dan mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

    Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

    Catatan per-alinea :

    Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah sehingga semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.
    Ø Alinea 1 menyatakan visi eklesiologi trinitaris yang selama ini dikembangkan dan akan terus dikembangkan 10-15 tahun mendatang.
    Ø Menegaskan kembali jati diri Gereja sbg “persekutuan paguyuban murid Yesus”; dan perutusan Gereja “menghadirkan Kerajaan Allah”.
    Ø Visi eklesiologi trinitaris ini berujung pada daya “signifikansi dan relevansi” Gereja dalam diri warganya sendiri maupun masyarakat. Menjadi Gereja yang semakin bernilai dan bermakna dalam kancah kehidupan umat beriman dan masyarakat inilah gambaran kenyataan yang akan diwujudkan, sehingga Gereja KAS bisa mengejawantahkan perutusannya – menghadirkan Kerajaan Allah secara nyata.
    Ø “signifikan” berarti “bernilai”: memiliki harga/mutu penting sehingga kehadiran dan gerak Gereja sungguh penting-memiliki nilai tinggi dalam diri warga dan masyarakat.
    Ø “relevan” berarti “bermakna”: memiliki arti/kegunaan/peran/pengaruh terhadap kehidupan.

    Dalam masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tatanan hidup baru yang adil, damai, sejahtera dan demokratis, umat Allah berperan secara aktif mengembangkan habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan beriman mendalam dan tangguh, serta ambil bagian mewujudkan kesejahteraan umum.

    Ø Alinea 2 memuat konteks masyarakat Indonesia dewasa ini. Konteks tersebut dirumuskan secara positif : “sedang berjuang menuju tatanan hidup baru”. Yang dimaksud tatanan hidup baru adalah kenyataan hidup yang dipenuhi keadilan, kedamaian, kesejahteraan dan demokratis. Rumusan positif itu ingin mengungkapkan tiga keprihatinan: 1) korupsi yang merupakan kanker di tubuh bangsa Indonesia yang berdaya merusak dan menghancurkan; 2) bertambahnya intoleransi-kekerasan dalam masyarakat yang dilakukan mayoritas terhadap minoritas sehingga menghancurkan kedamaian hidup; dan 3) kenyataan kemiskinan bahwa 40% warga bangsa belum sejahtera dan hancurnya keutuhan lingkungan hidup.

    Ø Alinea 2 ini juga memuat misi: “aktif mengembangkan habitus baru berdasar semangat Injil”. Tekanan/fokus konkretnya ada dua: “mengembangkan iman yang mendalam dan tangguh”, dan “terlibat mewujudkan kesejahteraan umum”.

    Ø “iman yang mendalam” berarti memiliki wawasan yang benar mengenai pokok-pokok iman kristiani, dan memiliki pengalaman/nilai mistik-politis yang kuat yakni keintiman relasi dengan Allah yang menggerakkan keterlibatan dalam hidup bermasyarakat.

    Ø “iman yang tangguh” berarti beriman secara tak tergoyahkan baik pada disposisi pribadinya sendiri maupun ketika berhadapan dengan yang lain. Iman kristiani menjadi pilihan hidup yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Ø “kesejahteraan umum” merujuk pada “keseluruhan kondisi hidup kemasyarakatan yang memungkinkan baik kelompok-kelompok maupun anggota-anggota perorangan untuk secara lebih penuh dan lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri”. Intinya menunjuk pada kenyataan hidup yang adil, damai, dan sejahtera.

    Langkah pastoral yang ditempuh adalah pengembangan umat Allah, terutama kaum awam, secara berkesinambungan dalam perwujudan iman di tengah masyarakat; pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel; serta pelestarian keutuhan ciptaan. Langkah tersebut didukung oleh tata penggembalaan yang sinergis, mencerdaskan dan memberdayakan umat beriman serta memberikan peran pada berbagai kharisma yang hidup dalam pribadi maupun kelompok.

    Ø Alinea 3 menyatakan langkah pastoral yang memuat tiga fokus, yakni proses pengembangan umat Allah, pemberdayaan KLMTD, dan pelestarian keutuhan ciptaan.

    Ø Fokus pengembangan secara umum menunjuk umat Allah, dan secara khusus menekankan kaum awam. Umat Allah mencakup hirarki, kaum religius, dan kaum awam. “Pengembangan umat Allah” dimaksudkan bahwa seluruh warga Gereja baik itu hirarki, kaum religius, maupun awam saling bersinergi untuk mendalami, mengungkapkan dan mewujudkan iman dalam dunia. Perwujudan iman dalam dunia, di tengah masyarakat, adalah tugas dan tindakan khas kaum awam. Oleh karena itu, Ardas secara khusus mengutamakan peran kaum awam. Langkah pastoral ini dijalankan secara berkesinambungan baik pada jenjang antar generasi maupun pada dinamika proses pemberdayaannya. Perwujudan iman di tengah masyarakat yang menjadi kekhasan gerak kaum awam mencakup pilihan pada bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, seni dan budaya, serta iptek. Pilihan ini ditentukan supaya jelas, tidak abstrak sekedar mengatakan berbagai bidang kehidupan.

    Ø Fokus pemberdayaan menunjuk pada diri kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Perwujudan iman dalam hidup sosial-kemasyarakatan mendapatkan bentuk nyata dalam pemberdayaan KLMTD. Tidak sekedar tindakan karitatif, melainkan tindakan memberdayakan.

    Ø Fokus pelestarian menunjuk pada keutuhan ciptaan. Ardas menegaskan komitmen umat Allah untuk menghadirkan Kerajaan Allah yang mencakup pemulihan keadaan alam semesta sehingga terciptalah “langit baru dan bumi baru”.

    Ø Bagian kedua dari alinea ke-3 memuat tata penggembalaan yang mendukung langkah pastoral. Tata penggembalaan ini dicirikan dengan usaha mencerdaskan dan memberdayakan umat beriman, serta memberikan peran pada berbagai kharisma.

    Ø Mencerdaskan dan memberdayakan umat beriman berarti mengupayakan umat beriman berwawasan luas dan mendalam serta berani/mampu mengambil prakarsa dalam pastoral dan tindakan kenabian. Umat beriman berani melangkah dari zona nyaman ke zona beresiko.

    Ø Memberikan peran pada berbagai kharisma berarti menumbuhkan dan mengembangkan macam-macam gerakan dan kelompok-kelompok umat untuk mewujudkan warta Injil di tengah masyarakat.

    Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, dan mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

    Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

    Ø Alinea ke – 4 dan 5 ini tetap mengambil rumusan dan penjelasan yang ada dalam Ardas 2006 – 2010.

    Ø Maksud dua alinea tersebut adalah inspirasi dan peneguhan iman.

    Komentar saya, Semoga informasi ARDAS dari 2 Keuskupan Agung ini dapat memperkaya Iman kita untuk berkembang dalam bimbingan ROH KUDUS. Salam Rinus Pantouw

  2. Rinus Pantouw says:

    Ytkasih, Pak Bimo Aksono,

    Maaf lambat memberi tanggapan tulisan Bapak di wall ISKA Surabaya dan sebelumnya kami ucapkan terima kasih untuk “Respon atas Ardas”.

    Umat di Keuskupan Surabaya sudah mempunyai Arah Dasar (ARDAS) untuk 2010 sd 2019 demi mencapai Hidup dalam Kelimpahan.

    Begitu pentingnya ARDAS ini juga terdiri dari 15 bidang Pastoral dengan 30 program kegiatan dan 30 nilai yang dihayati demi tercapainya cita-cita Hidup Menggereja, yaitu Gereja Keusukupan Surabaya sebagai Persekutuan Murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.

    Tentang PKKS, yang merupakan paguyupan yang merupakan kebutuhan umat dan sebenarnya orka ini dapat bergabung dalam Bidang Pastoral Kerasulan Khusus sehingga keterlibatan PKKS dapat turut dan larut dalam perjuangan mengembangkan ARDAS mencapai tujuan.

    Sekali lagi ini bagian dari semua unsur yang sudah ada di Keuskupan Surabaya sebagai asset berkembang dalam ARDAS demi tercapainya hidup “communio” .

    Syalom pak Bimo Aksono semoga semangat ARDAS yang ada dapat menjadi bagian dalam hidup “communio”yang bersumber pada nilai-nilai ARDAS KEUSKUPAN SURABAYA dan kami berdoa bagi Pak Bimo agar selalu mendapat perlindungan dari Roh Kudus dalam reksa Pastoralnya.

    Salam Ardas,

    Rinus Pantouw
    Anggota DPK
    Ketua ISKA Basis Surabaya

  3. Bimo Aksono says:

    Tanggapan atas tulisan Ardas 2010-2019

    Setelah membaca tulisan di halaman ini, …..mohon maaf sya agak meragukan apakah sang penulis memiliki pengalaman di lapangan terkait penggembalaan umat… justru adanya ardas sya sangat setuju (khusus mengenai ulasan ini saya sependapat) bahwa pada beberapa sisi membuat bingung. Contoh : saat ini di paroki kami memiliki seksi PKKS yg sangat baik dan berkembang luar biasa tdk saja mengurus administrasi tapi lebih dari itu mulai liturgi, mengusahakan makam hingga membantu hal-hal yg membuat umat merasakan bahwa gereja ada ditengah mereka. Tapi dgn adanya ardas , PKKS ternyata tdk masuk dalam 15 reksa pastoral (bahkan disebutkan dalam Ardas pun tidak)…… saya tdk tahu bpk uskup tahu ttg PKKS atau tdk tapi semua umat di paroki kami mengganggap PKKS lah yg membawa gereja lebih membumi….. bahkan dari PKKSlah banyak umat lebih tersentuh utk kembali sadar bahwa Tuhan itu benar-benar- ada (bahkan lebih ekstrim ada yg berpendapat justru seksi lain tdk penting tdk perlu ada di dewan paroki)……….saya menyadari bahwa PKKS suatu bahasa operasional bukan bahsa kebijakan utk itu memang bukan pada tataran PKKS harus ada disebutkan reksa Ardas shg perlu dibentuk seksi di keuskupan (bukan itu konteksnya, sya bisa bisa membayangkan betapa repotnya bapak uskup)…… yang luar biasa lagi akhirnya di paroki kami menjadikan PKKS sebagai kelompok kategorial seperti halnya PDKK, lansia, ME dan lain-lain, yg secara hirarki dalam ardas justru memperlihatkan bahwa di wilayah dan lingkungan akan terpisah (selama ini kategorial di paroki kami hanya berkembang di tingkat paroki adapun ditingkat wilayah dan lingkungan tdk berkembang semat-mata krn bersifat koordinatif shg sangat sulit ketua wilayah dan lingkunga tdk mampu mengendalikan, padahal selama ini dgn adanya seksi PKKS di wilayah dan lingkungan maka bisa dikendalikan oleh katua wilayah dan ketua lingkungan)…… belum lagi ttg proses pemilihan ketua wilayah dan ketua lingkungan dan formatur…..membuat banyak umat bingung…… sekali lagi buat penulis saya meragukan pengalaman saudara sbg penggembala sejati
    Salam, Gratias

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s