partai politik

PERAN UMAT KATOLIK TERHADAP PARTAI POLITIK

Narasumber :

1. AGATHA EKA PUSPITA RETNOSARI, S.T. (mewakili generasi muda)

2. A. HARSONO (mantan aktivis parpol), tetapi berhalangan hadir karena sakit.

Moderator :

Soenaryo, S.E., S.H.

PENDAHULUAN

Ibu AGATHA

Beberapa waktu yang lalu ISKA basis Surabaya pernah mengundang Prof. Basis Susilo dan Prof. Ramlan Surbakti dalam acara diskusi dengan tema “Politik dan Pemilu”, mereka berbicara dari sudut pandang akademisi, maka untuk tema politik kali ini ISKA mangundang narasumber dari aktivis parpol yang akan berbicara dari sudut pandang seorang praktisi.

Pertanyaan :

1. Boleh diceritakan asal mula atau apa yang mendorong Mbak Agatha hingga memutuskan untuk terjun ke dalam Parpol ?

Jawab :

Sejak kecil saya sudah dididik oleh ayah tentang nasionalisme yang memang seorang Soekarnois, walaupun demikian sang ayah tidak pernah menginginkan anak-anaknya terjun ke politik. Namun, panggilan hati untuk berorganisasi sudah tampak sejak di bangku sekolah, bahkan saat di bangku Perguruan Tinggi. Selain aktif di kegiatan kampus seperti paduan suara, saya juga sering ikut demonstrasi turun ke jalan sambil bernyanyi menghibur para demonstran, hingga pada akhirnya memutuskan untuk mendaftar sebagai anggota parpol. Setelah menerima SK keanggotaan di PDI Perjuangan, barulah keluarga saya beritahu.

Saya memilih PDI Perjuangan karena cocok dengan ideologinya dan merupakan partai besar yang mempunyai basis massa yang jelas dan royal dengan semboyan “sampai gepeng melok banteng” , walau demikian partai tetap sederhana. Saya pikir ini sesuai dengan ajaran katolik, selain itu saya pikir dengan masuk ke dalam sistem barulah saya mempunyai buldoser untuk menghancurkan tembok yang menghalangi cita-cita proklamasi yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Sebagai partai oposisi atau penyeimbang artinya bila kebijakan pemerintah salah kita lawan, jika benar kita dukung; contohnya kasus Century. Disamping itu bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralis, jadi menurut saya partai yang berbasiskan agama tidak cocok dan bertentangan dengan Pancasila dan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

2. Untuk tema politik kali ini, Mbak Agatha termasuk narasumber yang “langka” karena seorang perempuan, beragama katolik dan walaupun masih muda sudah mempunyai karier politik yang cukup baik. Saat ini umat katolik yang terjun ke parpol dan berhasil menjadi tokoh atau minimal berprestasi dan terpilih di legislatif semakin sedikit terbukti dari data statistik yang pernah di muat di Kompas bahwa yang anggota DPR Pusat yang beragama katolik jumlahnya turun daripada periode-periode lalu, jauh lebih sedikit dari yang beragama Kristen. Kalau dulu ada Kasimo, Harry Tjan Silalahi, Frans Seda dsbnya, sekarang tidak ada. Bagaimana menurut pendapat Mbak Agatha ?

Jawab :

Suara umat Katolik yang minoritas terpecah belah ke berbagai partai yang ada, bahkan di Ponorogo ada 2 caleg Katolik dari Partai Demokrat dengan Dapil yang sama, akhirnya suara terpecah. Mengapa tidak disatukan? Selain itu jika dulu ada Partai Katolik, tetapi sejak orde baru tidak direstui oleh Gereja, sebab jika Gereja terlibat dalam parpol maka kekuasaan menjadi absolut. Walaupun demikian sejak kepemimpinan Uskup Surabaya yang sekarang, gereja yang diwakili Romo Eko sangat mendukung umat berpolitik dan menjadi caleg dengan cara membantu mensosialisasikan caleg-caleg yang beragama Katolik sampai ke paroki-paroki di pelosok daerah wilayah Keuskupan Surabaya.

Di DPR Provinsi saja anggota dewan yang beragama Katolik hanya 2 (1 dari PDI Perjuangan dan 1 dari Hanura).

3. Ada anggapan dalam masyarakat kita bahwa politik praktis itu kotor seperti adagium “Tidak ada kawan atau lawan yang abadi tetapi yang ada hanyalah kepentingan”. Toh tanpa jalur partai politik, umat katolik ada yang dipercaya oleh Presiden untuk menduduki jabatan politis (menteri) seperti contohnya Marie Pangestu dan Purnomo Yusgiantoro. Bahkan hasil survey yang dimuat di Kompas menunjukkan bahwa lembaga legislative termasuk yang terkorup disamping kepolisian dan lembaga peradilan. Bagaimana Mbak Agatha menyikapi hal tersebut agar tidak terbawa arus yang kotor itu ??

Jawab :

Saya menggunakan perumpamaan “ ikan di lautan, walaupun air laut rasanya asin tapi ikan di laut rasanya tidak ikut asin”. Maka jadilah seperti ikan di lautan. Meskipun lingkungan kotor, kita tidak akan terpengaruh, kalau mengenai kekotoran dalam politik, tidak hanya ada di Parpol, dikantorpun ada politik kantor. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk politik (zoo politican).

4. Ada anggapan bahwa terjun ke Parpol itu mestinya sudah mapan dulu (artinya sudah tidak lagi memikirkan uang); jadi filosofinya “Tidak cari makan di Politik, tapi berpolitik untuk memberi makan rakyat.” Bagaimana menurut Mbak Agatha ?

Jawab :

Saya sangat setuju, kita berpartai jangan cari uang dan partai juga bukan tempat sosial (charity), artinya bukan hanya bagi-bagi uang ataupun sembako murah karena tidak mendidik. Kalau hanya mau sosial, salurkan saja ke gereja atau dinas social. Tetapi tujuan berpolitik adalah memperjuangkan kesejahteraan dan kepentingan rakyat. Contoh yang sederhana :

– Pada saat Pemilu jadilah Panwas, Staf KPU, jangan hanya jadi saksi atau anggota KPPS saja.

– Memperjuangkan issue-issue pluralisme, misalnya dengan cara menghambat perda-perda syariah.

– Memperjuangkan pemasangan saluran air bersih kepada masyarakat desa yang membutuhkan, caranya lewat kebijakan, tidak harus dengan uang. Kasus Miranda Goeltom adalah contoh pejabat yang mengandalkan uang karena tidak dekat dengan orang-orang partai.

Kesimpulannya kalau tujuan masuk partai karena ingin cari uang pasti tidak akan bisa bertahan lama.

5. Pertanyaan dari Bpk Hendy :

Suara umat Katolik ke depan lebih baik disalurkan ke partai mana saja ??

Jawab :

Partai Politik yang dekat dengan Gereja Katolik antara lain : Demokrat, PDIP, Hanura, Gerindra. Kalau PDS karena tidak lolos electoral threshold maka ke depan sudah tidak ada. Dalam waktu dekat ini ada pemilihan Walikota, maka pilihlah pasangan calon yang mendukung issue pluralisme.

6. Hari Kartini baru saja kita peringati, sebagai seorang perempuan, ibu dari 2 orang anak yang masih kecil, bagaimana Mbak Agatha membagi waktu dengan aktivitas parpol sehingga tidak sampai mengorbankan keluarga ?

Jawab :

Perempuan karier memang bebannya double ; tetapi suami saya juga mendukung dan memahami apa yang menjadi kesenangan isteri. Apalagi jika rapat parpol bisa sampai pagi maka dituntut pengertian dari suami. Di samping itu juga orang tua dan mertua juga bisa memahami.

7. Apa masukan untuk ISKA ke depan ?

Jawab :

(1) Membahas politik tidak hanya melalui diskusi politik saja, tetapi mungkin bisa dirancang suatu kegiatan, misalnya tentang kesehatan reproduksi dengan mengundang Dinkes (jadi bisa disisipi).

(2) Mengundang organisasi lain, misalnya Pemuda Katolik untuk bekerjasama dalam suatu acara yang sifatnya kajian-kajian ilmiah.

PENUTUP

narasumber + moderator

Kita berharap ISKA kedepan bisa seperti ICMI dalam arti sebagai wadah pengujian dan penggemblengan dalam hal intektualitas dan wawasan bagi umat Katolik yang ingin terjun ke parpol agar kader kita (kata orang jawa “gak ngisin-ngisini”).

Akhir kata semoga apa yang didiskusikan ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya generasi muda Katolik agar tidak lagi “alergi” untuk terjun ke parpol. (soen)

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in fokat MEI 2010 and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s