In Memoriam Frans Seda

FRANS SEDA

Diplomasi Frans Seda
Senin, 4 Januari 2010 | 03:29 WIB

Tidak ada yang keliru saat Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Frans Seda agar lebih baik beristirahat. Maklum, Frans Seda saat itu sudah berusia 81 tahun. Beliau juga sudah duduk di kursi roda pula. Namun, keinginan Frans Seda yang disampaikan kepada Wapres Kalla untuk membantu menyelesaikan utang Indonesia di Dana Moneter Internasional atau IMF itu adalah bagian dari semangat diplomasi yang kuat dan andal dalam diri Frans Seda.
Pria bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda ini mencatat sukses dalam misi diplomasi yang diembannya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pria sederhana kelahiran Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, ini mengisahkan misi diplomasinya menghindari perang pembebasan Irian Jaya yang kini dikenal dengan Papua.
Saat wawancara dengan beliau guna mempersiapkan artikel ”Lebih Jauh dengan Frans Seda”, berkenaan dengan hari ulang tahunnya yang ke-70 pada 4 Oktober 1996, Frans Seda mengisahkan bagaimana dia memainkan peran diplomasi ke Belanda guna melunakkan Pemerintah Belanda saat itu yang tetap tak mau menyerahkan Irian Jaya kepada Indonesia.
”Angkatan Darat pernah menugaskan saya, tahun 1962, menyelesaikan Irian Jaya (Barat),” ujarnya bersemangat saat ditemui di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Frans Seda selalu berapi-api jika menceritakan perannya menyangkut kepentingan bangsa dan negara.
Saat itu Pemerintah Amerika Serikat, di bawah Presiden John F Kennedy, mengajukan upaya perdamaian yang dikenal dengan Plan Bunker. ”Kita sudah setuju Plan Bunker dari Kennedy untuk menyelesaikan soal Irian Jaya, tapi Belanda belum. Bersama ABRI dan Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution), kita mencari jalan. Saya lalu dikirim ke Belanda untuk diplomasi,” tegasnya.
Plan Bunker intinya meminta Indonesia dan Belanda agar mengupayakan jalan damai bagi penyelesaian Irian Jaya. John F Kennedy mengutus adiknya, Robert Kennedy, ke Jakarta pada Februari 1961 untuk menyampaikan rencana ini, tetapi Pemerintah Belanda saat itu tetap menolak. Menlu Belanda Joseph Luns (1952-1971) paling keras menolak.
Karena Frans Seda saat itu tokoh Partai Katolik di Indonesia, mula-mula pembicaraan dilakukan dengan Partai Katolik di Belanda yang juga partai berkuasa. ”Tapi mereka tidak mau menerima, apalagi pemerintah. Menlu Belanda Joseph Luns saat itu juga melarang semua menteri menemui saya. Saya bilang, terserah,” ujar Frans Seda.
Frans Seda hanya mengatakan, ”Saya datang untuk menyatakan kalau kamu tidak menerima rencana itu, terjadi perang. Dan kalau terjadi perang, kau yang salah, kau yang harus pikul darah orang-orang yang mati.”
Saat itu Indonesia memiliki sejumlah kapal perang, kapal selam, pengebom, dan pesawat tempur mutakhir buatan Uni Soviet. Pada 2 Januari 1962, Komando Mandala untuk membebaskan Irian Jaya sudah dibentuk. Panglimanya Brigjen TNI Soeharto (kemudian Presiden Soeharto) yang saat itu menjabat Deputi KSAD Wilayah Indonesia Timur.
Pada hari ke-10, Partai Katolik Belanda rapat dan membicarakan masalah Plan Bunker dan akan mengusulkan ke kabinet. ”Saya bilang, tanggal 19 Mei saya masuk Indonesia dari Singapura. Kalau bisa, saya dapat kabar sebelum itu karena harus lapor kepada Bung Karno,” ujar Frans Seda.
Dari sana Frans Seda ke Roma (Italia), bertemu dengan Menlu Vatikan. ”Saya bilang bila Belanda tidak menerima Plan Bunker, berarti perang. Vatikan bila dengar soal pembunuhan amat responsif,” tutur Frans Seda. Pendekatan sebagai sesama Katolik dimanfaatkan.
Pulang ke Singapura. Pada 18 Mei 1962 malam, telepon berdering. ”Frans, dengar siaran radio Pemerintah Belanda semalam? Pemerintah Belanda menerima rencana itu.” Tiba di Jakarta, Frans Seda langsung ke Istana dan bertemu dengan Jenderal Achmad Yani.
Saat Frans Seda bertemu dengan Achmad Yani, datang Mayjen Soeharto. Sebagai Panglima Komando Mandala, pangkat Soeharto dinaikkan satu tingkat. ”Ia marah karena di luar diberitakan soal Irian ini kemenangan diplomasi Deplu,” ujar Frans Seda yang untuk pertama kalinya bertemu dengan Soeharto.
Tapi Achmad Yani langsung bilang, ”E… nanti dulu Pak Harto. Ini orangnya. Yang menjalankan diplomasi bukan mereka, tetapi kita. Ini orangnya di sini. Jangan kecil hati.” Frans Seda hanya berdiam diri saat ditunjuk Jenderal Achmad Yani.
Achmad Yani menegaskan, ini kemenangan tentara, walau di bidang diplomasi. ”Bukan kemenangan Subandrio,” ujar Frans Seda mengutip Achmad Yani. Subandrio adalah Menteri Luar Negeri yang ketika itu bertolak belakang secara politik dengan tentara.
Frans Seda sudah berpulang kepada Sang Pencipta 31 Januari 2009. Pertanyaan terakhir pada wawancara itu, apa yang dilakukan Pak Frans jika diperkenankan mengulang hidup lagi.
Dengan tertawanya yang khas, Frans Seda menjawab, ”Pertama, saya akan kawin lagi dengan istri yang sama, ha-ha-ha…. Kedua, bila diberi kesempatan, saya akan kembali turut mengatur negara ini sebab bangsa ini bangsa yang baik. Bila ditangani orang baik, akan bagus. Ketiga, coba lagi menjadi Katolik, ha-ha-ha…, jadi Katolik yang lebih baik.”
Frans Seda menikahi Yohanna Maria Pattinaya pada 11 Mei 1961 di Jakarta. Frans gemar menonton tonil yang salah satu bintangnya adalah sang istri. Terima kasih Pak Frans Seda.

(Pieter P Gero Kompas, 4/1/10).

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARTIKEL, Fokat januari 2010 and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s