Reportase 25-10-09

Apa  itu KORUPSI, kondisinya ?

Oleh                 :

Romo Prof. DR John Tondo Widjojo, CM
DR. Hendy Tedjonagoro, SH
Dra. Jeanne Asteria Wawolangi, MSi., Ak.

Moderator         :

Rinus Pantouw, S.H, M.Kn

Bertempat di Lobby kaca lantai IV gedung F kampus Unika Widya Mandala Surabaya, Minggu, 25 Oktober 2009, ISKA kembali mengadakan diskusi bulanan dengan tema yang sangat menarik “ Apa itu Korupsi dan kondisinya ?”.
Diskusi dihadiri anggota ISKA dan rekan-rekan Mahasiswa dari Univ. Dharmacendika dan  Univ. Widya Mandala Surabaya yang peduli akan pemberantasan Korupsi dan dipandu oleh para narasumber yang punya kepedulian dan berpengalaman dibidangnya.

Romo Prof. DR John Tondowidjojo, CM :

Korupsi Ditinjau Etimologi – bahasa Latin adalah Korumpere merusak (kata kerja) dan Korupsio (kata benda). Korupsi mengandung arti seperti : kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidak jujuran, penyuapan,  penggelapan, kerakusan, amoralitas dan segala penyimpangan dari kesucian. Ini harus dipakai dalam mendalami arti Korupsi sudah tidak melenceng.
Harryson, Tahun 2000 dalam buku ”Culture Methode” mengingatkan bahaya Korupsi sebagai penyebab segala kemunduran dan keterbelakangan suatu masyarakat. Hancurkan sebuah bangsa karena hancurnya moralitas. Yang juga dikutib oleh Penyair Arab ”Sauki beid”. Menjadi pertanyaan Romo Tondo : Beragama tapi tidak berarti TIDAK KORUPSI ! Beragama macam apa yang dapat mencegah korupsi?
Korupsi melanda disegala bidang, secara fakta baik dalam lembaga agama maupun lembaga sekuler. Orang yang saleh banyak berdoa belum tentu dia tidak korupsi, belum tentu dia membawa kesalehan sosial. Dalam Yakobus Bab 2 ayat 14 disinggung Iman tanpa perbuatan itu kosong. Aktualisasi Iman itu penting karena walaupun orang ke Makkah, Ke Lourdes, Ke Sendang Sono dsb yang telah menghabiskan uang jutaan tapi korupsi makin meningkat, lalu agama itu ada dimana?. Apa yang salah orangnya atau agamanya ? Jika di baca Alkitab atau Alquran itu membawa kita ke Surga.  Pada hari Natal, Paskah Gereja Penuh dan Masjid penuh tapi tidak mengurangi kuantitas Korupsi.
Salah satu penyebab gagalnya pemberantasan Korupsi karena kurangnya PENGAWASAN,  kontrol sosial itu begitu penting untuk mengurangi peran dan tindakan korupsi. Contoh-contoh terjadinya Korupsi di segala bidang dan di dalam oknum Institusi, yaitu :
–    Di bidang Politik adalah Korupsi demi kemenangan Pemilu, di bidang;
–    Di bidang Hukum adalah Keadilan diperjualbelikan, main suap, HAKIM (Hubungi Aku Kalau ingin Menang);
–    dibidang sosial budaya terjadinya Pornografi, hedonisme dsb.
– Oknum Di Kepolisianpun ada yang mudah di sogok, misalnya dengan mendapat   ”mel- melan ”di jalan dari Truk yang lewat”;
–    Oknum di militer kalau di daerah pelosok begitu berkuasanya dan sangat berpengaruh.
–    Di bidang Iptek, misalnya kalau mau jadi Professor dikenakan biaya Rp.15 Juta,- yang sumber yang tidak jelas menawari pembicara dan temannya. Syukurnya kemudian hal ini di tahun mendatang ditindak aparat Penegak Hukum.

Godaan secara Internasional di Jaman Modern * misalnya :
1. Sensualisme sebagai suatu godaan atas  rangsangan,
2. Posesivisme sebagai godaan ingin memiliki.
3. Medicalisme : Di Dunia medis salah satu contoh : melakukan vasektomi sebagai orang Katolik
4. Radikalisme : Tindakan yang melawat kepatutan secara keras.
5. Etnosentrisme : Kesukuan dengan cara mempertahankan kekuatan.
(* Di ambil dari bukunya Franchee dari halaman 150).

Untuk mengatasi korupsi perlu meningkatkan kerjasama berbagai aliran dan berbagai pihak dengan meningkatkan PENGAWASAN yang terpadu dan menghindarkan praktek yang tidak sehat dan sikap tertutup.

DR. J. Hendy Tedjonagoro, SH
Masalah Korupsi dan strategi mengatasinya.

Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (Un-ordinary Crime) yang perlu diberantas  dari segi hukum dan sosial budaya.
Korupsi itu berkait erat dengan kebodohan,  masalah politik, dsb.
Kemajuan ekonomi terkait dengan majunya korupsi, sehingga lahirnya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk memberantasnya. Layaknya penyakit di Indonesia, bahwa saat ini penyakit ”korupsi” sudah mencapai tahap stadium 4, di mana sudah menjalar dari eksekutif sampai ke pihak swasta.  Bahkan dilingkungan Yudisial dan para penegak hukum termasuk di Kepolisian dan di KPK (yang saat ini dalam proses hukum).
Tidak cukup hanya dibentuk pengadilan Tipikor, dan UU anti korupsi  namun perlu kerjasama semua pihak meningkatkan kesejahteraan dan memahami korupsi sebagai kejahatan yang luar biasa.

Dra. Jeanne Asteria Wawolangi, MSi., Ak..
Hal yang disengaja dalam hal ini adalah Moral yang menurun menyebabkan Kondisi yang tidak kondusif dan melahirkan Korupsi dan kecurangan sebagai triger(penyebab) yang mengakibatkan Perusahaan tidak effisien dan tidak ekonomis yang berujung pada ’Collapse’ (perusahaan ditutup) yang menjadi mata rantai pegawai kehilangan pekerjaan dan negara dirugikan.
Jadi ada triger : 1.  factor moral ;
2. Kejadian Korupsi;
3. Akibatnya.

PERTANYAAN :
1.    Bagaimana faktor komunikasi dapat merubah cara berkomunikasi dan dapat dikaitkan dengan upaya pemberantasan Korupsi? Contohnya jika para koruptor diekspos/diumumkan jumlah kekayaannya dan kebiasaan hidupnya menghabiskan uang hasil korupsi, maka tentu para koruptor jadi tidak bisa tidur nyenyak  dalam menggunakan kekayaan yang bersumber dari hasil korupsinya.
– Ingat mereka ini menggunakan ”uang haram”- black money yang nantinya mereka lalukan pencucian uang (Money loundering) untuk menghindari rekam jejak uang haram dan legal memakai uangnya.
2.    (Vonny, UKDC) Sikap apa yang harus dilakukan jika dalam lingkungan pekerjaan semuanya melakukan korupsi dan kita/saya ditekan untuk melakukan tindakan tersebut ? (Romo Tondo) Sosial kontrol sangat lemah termasuk yang mengontrol harus konsekuen. Dalam hidup keteladanan perlu ditegakkan lewat transparansi, pamflet dan sanksi yang ditegakkan. Harus ada 1 saran keteladanan di perusahaan tersebut dan perlu solidaritas pemberantasan korupsi. Soal nurani ybs. Pedoman praktis atas kebaikan diri sendiri yang harus diaktulisasikan. Iman masih dalam forum ritual belaka dan belum menyentuh kehidupan praktisnya. Ingat habis Misa Kudus ditutup: Kita mendapat berkat yang berbunyi : ”Marilah pergi, kita diutus untuk mewartakan sabda Kristus”.
3.    (Didik, UKDC) Saat ini Korupsi sudah membudaya, contohnya dilingkungan harga rumah terdapat bagian  40% unsur korupsi, dimana ada tambahan dana untuk kelancaran pekerjaan dari 20% sd 40% sehingga menambah harga rumah? (Romo Tondo) Lingkungan yang salah kaprah melahirkan perasaan yang keliru.
4.    (Tedjo, ISKA) Bagaimana memberantas Korupsi- way outnya?  Pendapat Pak Tedjo, perlunya mata pelajaran Pemberantasan Korupsi mulai dari TK dst. Juga sanksinya harus seberat-beratnya sampai hukuman mati. (Hendy)Kemiskinan memang jadi faktor mayor yang harus dikikis.
(Soenaryo, Biro Konsultasi Hukum -ISKA):
ada 4 unsur dalam Korupsi : 1. dengan sengaja, 2. Menguntungkan diri sendiri atau orang lain, 3. menyalagunakan wewenang, 4. Merugikan keuangan Negara. Syarat ini merupakan syarat kumulatif- harus terpenuhinya seluruhnya dan berlaku azas hukum ” berlaku prinsip ”Presumtion of Innocense”/Azas Praduga tidak bersalah sehingga sebelum dinyatakan bersalah lewat Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, maka seseorang tidak dapat diumumkan tindakan korupsinya.
(Suwandito)  Pemberantasan Korupsi juga bisa di mulai dari tindakan Disiplin. Yang dimulai dari diri sendiri, penjadi kepatutan dari suatu masyarakat dan selanjutnya keteraturan ini menghindarkan kondisi Korupsi di mana-mana. Kalau kondisinya sudah teratur, maka yang berbuat diluar keteraturan akan lebih mudah dikenali sebagai tindakan yang salah atau tindakana mengarah pada upaya korupsi. Hal ini berarti masyarakat berperan besar memberantas Korupsi. Minimal korupsi yang skala kecil.
– Ingat di luar negeri, misalnya di Eropa dikalangan akademisi, dan hal ini sudah dibudayakan sejak anak-anak sampai mahasiswa sehingga sikap antri, tidak mencontek dan meng-akali peraturan sudah relatif jarang terjadi dan kontrol sosial sedang bekerja.
(Mahasiswa) Budaya Transaparansi perlu di upayakanterus menerus dan harap dimulai dari Lingkungan Pengelola Universitas kepada para Mahasiswanya, agar Insan Kampus dapat mulai berpikir jernih dan menghindarkan kondisi Korupsi dalam kampus.

Talk show "KORUPSI"

Pada pukul 11.00 WIB. Diakhiri talk show ini walaupun Peserta yang masih antusias menyuarakan pendapatnya.
(Notulis : Lili Megawati P., S.Pd)

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in ARTIKEL, fokat november 09 and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s