Notulensi dalam Pelantikan ISKA 2009

Tentang Pembunuhan

Dalam memberikan bekal kepada para pengurus ISKA Basis Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wiaksono, mengatakan, bahwa acuan Umat Katolik adalah Kitab Suci Perjanjian Baru. Bukan Kitab Suci Perjanjian Lama. Kecuali, menyangkut hal-hal yang sangat mendasar, seperti 10 Perintah Allah. Perintah untuk tidak boleh membunuh adalah final, dan tanpa diberi embel-embel kecuali. Tidak boleh membunuh ya titik.

Tidak ada komanya, dan tidak ada lanjutannya. Maka alasan bahwa kami membunuh karena diserang, daripada kami mati, maka lebih baik kami yang membunuh duluan, bukan merupakan ajaran gereja. Kalau umat Katolik merasa terancam, ya lari menghindar. Bukan lalu jadi pembunuh.
Pak Paulus Harli, Ketua Presidium, beberapa kali mengulang salah satu pidato Pak Budi, Ketua Konghucu Indonesia.

Dalam pidato itu, Pak Budi menceritakan kisah Konghucu dengan dua muridnya, yang satu sangat cerdas, yang satu lagi sangat bodoh. Pada suatu hari, dua murid ini ngobrol tentang berapa sebenarnya dua kali dua. Yang cerdas segera mengatakan, bahwa hal itu tidak perlu diperdebatkan, karena jawabannya sudah sangat pasti, yaitu empat. Murid yang bodoh mengatakan bukan. Dua kali dua bukan empat melainkan tiga. Murid yang cerdas marah, dan mengajak menghadap Sang Guru. “Kalau dua kali dua ada empat, apa yang kamu pertaruhkan?” Murid yang bodoh menjawab dengan tegas. “Leherku jadi taruhan. Kamu boleh memenggal leherku, kalau guru mengatakan bahwa dua kali dua adalah empat. Lalu apa taruhanmu kalau

Guru mengatakan bahwa dua kali dua sama dengan tiga?” Murid yang cerdas segera menjawab. “Simbol dari kecerdasanku adalah toga profesor yang aku pakai
ini. Kamu boleh menginjak-injak togaku ini, kalau jawaban guru, dua kali dua sama dengan tiga.”
Maka mereka pun menghadap Sang Guru. Demi mendengar permasalahan yang mereka hadapi, Konghucu segera menjawab dengan tegas. “Dua kali dua memang benar ada tiga.” Maka dengan amarah yang meluap-luap, murid yang cerdas melepas toganya, menjatuhkan ke tanah, untuk diinjak-injak oleh murid yang bodoh, sambil menympah-nyumpah. “Guru dan murid ternyata sama-sama bodohnya.

Dunia sudah terbalik-balik. Murid yang bodoh dan salah dibenarkan, sementara murid yang cerdas dan benar dipersalahkan.”
Pada hari lain, ketika amarahnya sudah mereda, murid cerdas itu menghadap Sang Guru sendirian. “Guru, sebenarnya berapakah dua kali dua?” Konghucu, Sang Maha Guru itu menjawab dengan sangat tenang. “Dua kali dua ya jelas empat. Kalau kamu masih mempertanyakan hal itu, berarti kamu yang bodoh!” Si murid cerdas bingung. “Lo, kok tempo hari guru mengatakan bahwa dua kali dua sama dengan tiga?”

Sang guru menjawab lagi. “Itu aku lakukan demi nyawa saudara seperguruanmu. Aku tidak mau di sini ada pembunuhan. Untuk soal yang satu ini, aku rela mengatakan sesuatu yang tidak benar.”
(F. Rahardi)

About iskasurabaya09

social blog
This entry was posted in PELANTIKAN PENGURUS and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s